Renungan
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَـٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍۢ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَـٰرُ
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, (QS.14:42)

Tampilkan postingan dengan label Si Paul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Si Paul. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 November 2010

Suka Menilai Orang

Sungguh, hati, rasa , dan ‘aqalmu sudah tidak lagi dapat berfungsi dalam kehidupan diri. Tidakkah kau malu pada Allah yang telah mencipta dirimu? Bagaimana bisa kau menilai orang lain sementara dirimu sendiri tidak pula jauh berbeda dengan mereka? Bahkan bisa jadi keburukanmu lebih banyak dibandingkan mereka yang sedang kau nilai. Seseorang berani menilai, berarti telah berani pula menyatakaan dirinya labih baik dari pada yang sedang dinilai. Berbeda dengan mereka yang telah dikaruniai mata hati. Mereka bersikap bukan menilai fihak lain, tetapi mereka diberitahu oleh Allah, sehingga mereka dapat mengatakan dengan yaqin dan pasti bahwa si A adalah demikian.
Bagaimana perasaanmu jika

ada seseorang menilai dirimu dengan duga-duga, ternyata penilaiannya meleset jauh dari dugaannya? Bukankah kau akan sakit hati, apalagi jika penilaiannya adalah “penilaian buruk”. Dalam dunia pendidikan sering guru menilai muridnya. Keberanian guru menilai muridnya, karena pengetahuan guru berada di atas pengetahuan murid. Maka pertanyaan apakah di saat kau menilai seseorang, kau telah dapat menjamin dirimu telah melebihi mereka yang sedang kau nilai? Sungguh di sinilah letak kezhaliman manusia, telah melampaui batas kuasa Allah.
Demikian itulah sikap dan sifatmu selalu tampil seakan-akan diri lebih baik dibandingkan fihak lain. Sebenarnya penilaianmu itu tidak lain hanyalah untuk menutupi aib dirimu. Tetapi aib-aibmu kau tutup rapat dengan membalikkan keaiban diri pada fihak lain, dengan cara salah satunya ialah banyak menilai orang lain dari pada menilai diri sendiri.
Seseorang yang sadar akan dirinya , dia tidak akan menilai orang lain sebelum menilai jauh ke dalam dirinya sendiri. Bila dalam penilaian diri dijumpai catat-cacat diri maka dirinya tidak sanggup untuk menilai orang lain. Sedangkan mereka yang suka menilai orang lain adalah mereka yang tidak pernah menilai dirinya sendiri. Bahkan tidak pernah menyadari apa dan bagaimana buruknya diri. Hancurnya kehidupan bermasyarakat, disebabkan satu sama lain saling menilai, tanpa lebih dahulu menilai dirinya sendiri.
Oleh karena itu wahai Si Fulan! Haq muthlaq Allah untuk menilai seseorang, “Apakah dia baik atau buruk?”, sebab Allah yang telah mencipta manusia, maka Allah pula yang tahu penyimpangan tiap-tiap diri. Sekiranya logika menyadari penuh bahwa diri manusia itu adalah ciptaan Allah, maka logika tidak akan mampu menilai orang lain. Tetapi karena sifat logika itu sombong, dan selalu mengesampingkan keberadaan Allah, akhirnya sikap logika semaunya menilai fihak lain. Padahal bila satu pertanyaan dilontarkan pada logika, habis dan terpojoklah logika, yakni dengan satu petanyaan: masihkah logika dapat berbangga bila diri manusia itu telah mati? Dalam hal ini logika tidak pernah berfikir sejauh itu, bahwasanya dalam diri manusia ada dzat yang sangat berperan dalam gerak kehidupan manusia , yaitu dzat hidup yang merupakan bagian dari Dzat Maha Penghidup yaitu Allah, sedangkan yang dimaksud dzat hidup dalam diri manusia yang merupakan Dzat Maha Penghidup Allah adalah ruh.

Dikutip dan diringkas dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Halaman: 41, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda Kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Rabu, 27 Oktober 2010

Dendam lanjutan…

Nabi Muhammad s.a.w., ketika dicela, dicerca bahkan dilempari di depan rumahnya dengan kotoran manusia, semua itu dibalasi dengan kebaikan-kebaikan, seperti mendo’akan dam memohonkan ampunan bagi lawan yang telah berbuat kejahatan.
* Cobalah kau renungkan mendalam ke lubuk hatimu!
* Allah menciptakan manusia lengkap jasad dan nyawanya!
* Allah memberinya rizqi,
* Allah memberi tenaga agar manusia dapat bergerak dan berbuat,
* Allah memberi mata untuk melihat,
* Allah memberi telinga untuk mendengar,
* Allah memberi mulut, untuk dapat berkata-kata dan makan.
Utuhlah semua yang ada dalam diri manusia Allah berikan dengan serba berkecukupan untuk manusia. Tetapi apa yang dikembalikan manusia terhadap Allah? Tidak lain umpatan, gerutuan, pembangkangan atau keingkaran, kesombongan dan bahkan suka mencela ciptaan Allah. Pertanyaan terhadap sikap manusia yang demikian itu, apkah segera dibalasi Allah kejahatannya atau Allah dendam dengan menumpas habis semua manusia? Padahal untuk menumpas habis kehidupan manusia bagi Allah sangat muda. Tetapi bukankah demikian sikap Allah. Kasih sayang, penerima taubat dan pemaaf lebih menghiasi sifat-Nya.
Sikap Allah memang tidak segera membalas atau menumpas habis manusia yang jahat. Kerena Allah terus bersikap membuka pintu taubat seluas-luasnya. Dengan demikian memberi kesempatan bagi manusia untuk memperbaikai dirinya. Maka bila dirimu terus menerus menaruh dendam, berarti kau telah tampil melebihi sifat Allah. Inilah yang telah Allah isyaratkan dalam firman-Nya: Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” (QS.96:6), yang dimaksud melampaui batas adalah melampaui kekuasaan Allah, termasuk dirimu selama ini. Oleh karena itu sadarilah! Waktu atau usiamu telah banyak terbuang begitu saja dengan sia-sia. Berpaculah sekuat tenaga atau semaksimalnya menurut batas kemampuanmu untuk menutupi kerugian masa yang lalu. Jangan sia-siakan waktu sedikitpun, sebab waktu bila elah berlalu tidak akan dapat ditarik atau diraih kembali.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Halaman: 37, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda Kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Minggu, 24 Oktober 2010

Dendam Lanjutan…

Bagaimana bisa ibadah yang dilakukan akan menghasilkan buah yang baik? Sementara setiap ibadah ditanam atau ibadah dilakukan selalu dimakan ulat. Ibarat seseorang menanam tanaman tanpa dirawat dan dijaga dengan baik, pastilah setiap daun, putik, bunga maupun bakal buah yang hendak muncul, sudah terlebih dahulu dihadang atau dimakan ulat. Begitulah ibadahmu selama ini. Ulat pengrusak tanaman seharusnya dibasmi terlebih dahulu, tapi bagimu malah dirawat dan dipelihara. Siapakah ulat tersebut? Itulah iblis terlaknak. Tidakkah kau ketahui wahai Si Fulan, satu-satunya makhluq ciptaan Allah yang mula pertama melahirkan dendam adalah iblis? Kedengkian terhadap Nabi Adam a.s. membuat iblis menaruh dendam besar terhadap anak cucu Nabi Adam a.s. hingga akhir zaman. Tetapi tampaknya manusia–manusia pun banyak mentauladani sifat iblis (termasuk dirimu di dalamnya). Sedangkan hamba-hamba Allah yang beriman sejati, sekali pun mereka disiksa, dicerca maupun difitnah tidak pernah membalas kejahatan apalagi untuk berdendam. Malah sebaliknya mereka (para hamba-hamba Allah) selalu memohon ampun terhadap dirimu sendiri dan terhadap fihak yang telah menjahatinya. Contoh:
Nabi Adam a.s., jelas-jelas ditipu atau disiasati oleh iblis. Sehingga Adam a.s. beserta istrinya terlempar dari syurga. Secara logika manusia, bukankah wajar bagi Adam a.s. & Hawa untuk membalasi kejahatan iblis atau berdendam. Sekalipun Adam a.s. & Hawa (telah memperturuti tipu daya iblis) mereka harus menebusnya dengan diturunkan ke bumi. Namun demikian, baik Adam a.s. maupun Hawa tidak pernah membalasi kejahatan iblis ataupun dendam. Sebaliknya Adam a.s. & Hawa malah berhati-hati dan memohon ampun atas kesalahan dirinya sendiri (Adam a.s. & Hawa). Maka pertanyaan: “Siapakah kini yang kau tauladani?” Jika kau merasa dirimu adalah manusia, berarti dirimu adalah anak cucu Adam a.s. Dengan demikian, pola hidup yang dituruti atau ditauladani adalah pola hidup para Nabi. Mereka semua adalah satu jalur keturunan yaitu Nabi Adam a.s. Sedangkan iblis bukanlah sejalur atau segaris dengan manusia. Iblis dibuat dari api, sedangkan manusia dari tanah. Dari asal usul kejadian ini saja, tampaklah perbedaan tegas antara manusia dan iblis. Tetapi herannya banyak manusia menyeberang bahkan bertempat tinggal sejalur iblis.

Bersambung…

Baca Lanjut......

Sabtu, 23 Oktober 2010

Dendam

Wahai Si fulan yang bersifat laksana kodok! Seseorang berani menyatakan diri beriman, berarti di dalam hatinya tidak ada lagi apa dan siapa, termasuk sifat dendam. Tidakkah kau ketahui bahwasanya seseorang berdendam hati adalah laksana penyimpan api dalam sekam. Sepintas api itu memang tidak tampak tetapi kepulan asapnya telah cukup membuat sesak keadaan, karena asap api tersimpan dalam sekam. Apabila sekam itu sedikit saja disulut atau dikipas, meledak dan menyemburlah api dari sekam. Dengan demikian seorang pendendam, sama halnya ia menyimpan dan merawat iblis dalam hatinya. Iblis kau selimuti rapat dengan dendam. Bertambah hangatlah tubuh sang iblis di sudut hatimu. Sebab dendam adalah amarah, amarah adalah panas hati, panas hati adalah api, sedangkan api

itulah bahan dasar pembuatan iblis. Selama iblis masih terawat dan terpelihara baik di dalam hati, jangan kau sangka ibadah yang kau lakukan telah berarti. Walaupun tampak dimata kepala tubuhmu atau ragamu jungkir balik melakukan ibadah, seperti: sholat, puasa, infaq, haqeqatnya dirimu tidaklah beribadah. Apa yang telah kau lakukan dengan ibadah tersebut tidak pernah dapat mengalir ke hati, apalagi ke nafsu. Sedangkan keberadaan iblis di sudut hatimu, adalah ulah dirimu sendiri selaku perawat dan pemeliharanya. Kau beri ia makanan kenyang berupa dendam, sombong, kufur dan lain-lainnya, menjadi bertambah senanglah iblis di dalam hatimu.
Dapatkah kau bayangkan, berapa tahun lamanya kau beribadah, tetapi tidak membawa hasil, yang berarti sia-sia. Sebab ibadah yang telah kau lakukan sekian lama bukan didorong oleh pengertian apalagi atas berkesadaran diri. Tetapi kau lakukan karena kebiasaan sejak kecil sehingga ibadahmu tidak dapat memberikan perubahan-perubahan menanjak terhadap diri. Cobalah kau sadari seorang dewasa berkegiatan ibadah karena kebiasaan maka apa perbedaannya dengan rutinitas ibadah anak anak. Sekian tahun sudah waktu dan usiamu terbuang sia-sia begitu saja. Pantaslah di dalam Al-Qur’an Surah AL-Ashr Allah berfirman “Sungguh merugilah orang–orang yang telah menyia-nyiakan waktu”. Bersyukurlah dirimu telah mengetahui bahwasanya selama ini tidak ada arti apa-apa ibadah yang telah kau laukan.
 
Bersambung….

Baca Lanjut......

Jumat, 22 Oktober 2010

Bantu Biaya Dan Tenaga Untuk Selamatan Orang Meninggal

Seseorang yang telah mengakhiri hidupnya tidak ada lagi yang dapat menambah amalnya, kecuali do’a nya seorang anak yang shaleh, amalnya sendiri ketika masih hidup, dan ilmu bermanfaat yang ia tinggalkan. Kata-kata selamatan untuk orang yang meninggal, dalam hal ini, apanya yang hendak diselamatkan? Apakah karena telah berakhir hidupnya? Atau kah agar yang telah meninggal ini dapat bebas dari adanya adzab kubur? Dalam firman Allah menyatakan bahwa apa-apa yang diperbuat seseorang, imbalannya akan kembali pada dirinya sendiri.
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh apa yang telah diusahakan, (QS.53:39)
Lalu bagaimana mungkin dengan selamatan akan membantu seseorang dari adanya adzab kubur.
Wahai Si Fulan! Apa-apa yang telah dirisalahkan oleh Rasulullah Muhammad s.a.w. tidak ada lagi kekurangannya. Cukup sempurna sudah, risalah yang ia wariskan kepada ummatnya. Adakah hal selamatan ornag mati pernah dituntunkan Rasul? Jelas Rasul tak pernah menuntunkan hal itu. Lalu siapkah yang akan diteladani, Rasul atau seseorang? Kau berikan bantuan tenaga dan harta, jika kau arahkan kepada keluarga yang ditinggalkan mayit itu adalah benar. Tapi bila kau arahkan kepada yang meninggal, hal itu suatu kekeliruan.
Jika suatu acara selamatan dapat menolong seseorang dari adzab kubur atau untuk menambah amal bagi yang meninggal, maka tak perlu seseorang semasa hidupnya beribadah dan beramal kebajikan; cukup setelah meninggal selamatkan dengan membaca do’a; juga tak perlu kejahatan diberantas. Sebab semuanya telah tercakup nanti setelah seseorang meninggal. Ini semua akibat ummat Islam yang hanya membeo seperti beo. Tak mengerti haqeqat sesungguhnya dari apa yang ia diperbuat. Diberi ‘aqal tidak mau disyukuri ‘aqalnya. Akhirnya jadilah ummat Islam menjadi ummat yang selau diperbodoh.
 
Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Halaman: 153, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda Kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Rabu, 13 Oktober 2010

Si Kodok Berprasangka Buruk

Orang-orang yang menumbuh-suburkan atau orang-orang yang hanya menata logika semata, pasti mempunyai keraguan sebagai unsur paling menonjol dalam dirinya. Awal keraguan mereka suka menimbang–nimbang untung rugi bagi nafsu. Jika nafsu diminta sumbangan pemikirannya, pastilah sasaran keuntungannya bagi nafsu itu sendiri. Sebaliknya bila sesuatu dinilai dan dipadang malah merugikan nafsu, spontanitas nafsu pun langsung berprasangka buruk. Padahal apa yang dinilai buruk bagi nafsu, belumlah tentu buruk pula secara haqeqat.
Prasangka buruk lahir dalam diri manusia-manusia yang memanjakan nafsunya. Akibat nafsu terbiasa dimanjakan, begitu ruh ingin segera bangkit, nafsu pun mulai bersiap siaga untuk ke dalam diri sendiri dengan sasarannya adalah ruh, begitu pula terhadap di luar diri. Bukti nafsu selalu berprasangka buruk ialah “ ketika ruh hendak mendekat atau berjumpa dengan Robb-nya, nafsupun melancarkan prasangka buruknya, yaitu jangan-jangan nantinya berakibat begini atau jangan-jangan nantinya berakibat begitu. Tepatnya ucapan prasangka buruk nafsu yang selalu dilontarkan adalah “hati-hati menempuh jalan menuju Allah”, beresiko tinggi, bisa saja nanti hidup sengsara. Kemudian nafsu berkata lagi: nanti ujiannya berat-berat, apa iya kamu mampu?”. Hal-hal seperti inilah salah satu bentuk prasangka buruk yang dilancarkan nafsu terhadap ruh. Nafsu itu sungguh sangat jahat, karena selalu menyeret langkah manusia pada jalan kemurkaan Allah. Nafsu berpura-pura menyenangkan diri. Padahal bila nafsu memiliki mata pandang yang jelas (mata pandang haqiqi), maka bergeraknya ruh menuju Robb, dengan sendirinya akan membawa keselamatan dan kebahagiaan bagi nafsu.
Sifat ruh tidaklah serakah sebagaimana sifat nafsu. Bila ruh menemukan kebahagiaan pasti dibagikannya kepada nafsu. Hanya saja kadang-kadang titik awal keberangkatan ruh menuju Allah membawa suatu kebahagiaan, selalu saja nafsu mempertahankan harga diri untuk menerima kebahagiaan yang diberikan ruh. Sering nafsu malah mencela atau mencemooh ruh. Kebahagiaan haqiqi yang diberikan ruh baru bisa dirasakan nafsu, setelah perjumpaan ruh dengan Allah pencipta berlangsung lama. Berbeda bila nafsu mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan nafsu hanya untuk nafsu sendiri, bahkan sering kebahagiaan nafsu justru untuk menekan atau membunuh kegiatan ruh. Di sinilah letak kejahatan nafsu. Nafsu selalu sok tahu, padahal di balik nafsu sok tahu adalah ketololan yang sangat, karena tidak dapat membedakan kesenangan semu dengan kesenangan haqiqi. Nafsu bukan hanya sok tahu bahkan nafsu juga sok pintar dan sok pengatur. Sehingga bukan saja ruh yang diaturnya, tetapi juga Allah selaku Pencipta tidak luput dari prasangka buruk nafsu, termasuk (dalam hal ini adalah) nafsumu sendiri. Nafsu seenaknya sendiri berprasangka buruk terhadap ruh dalam dirimu, bahkan kepada Allah. Apalagi terhadap di luar dirimu (makhluq ciptaan Allah lainnya). Begitu bebas semaunya nafsumu untuk berprasangka buruk.
Apakah kau mengira dirimu lebih baik dan lebih sempurna dari seseorang yang kau prasangkakan itu? Tidak wahai Si Fulan yang bersifat laksana kodok! Bahkan boleh jadi, dirimulah yang lebih buruk daripada yang kau prasangkakan itu. Atau apakah kau kira apa yang datang dari sisi Allah adalah lebih buruk pula menurut prasangkamu? Belum tentu! Justru boleh jadi dan pasti apa yang ada di sisimu lebih buruk daripada yang ada di sisi Allah. Oleh karena itu janganlah sesuatu itu selalu kau ukur dari sudut penilaian atau pandangan logika semata. Logikamu tidak bisa merasakan yaqin, dengan sesuatu yang telah nyata-nyata dihadapi. Orang-orang yang senantiasa berprasangka buruk ialah “orang-orang yang tidak dapat membaca esensi dengan sesuatu keyakinan”. Sehingga untuk menutupi ragu, prasangka buruklah yang dilontarkan, baik secara terang-terangan, maupun secara sembunyi-sembunyi.
Ketahuilah wahai Si Fulan yang bersifat laksana kodok! Prasangka buruk itu sebenarnya bukanlah pakaian anak manusia, khususnya ummat Islam. Islam selalu mendidik dan mengarahkan manusia untuk berbuat dengan berpendirian yaqin. Itulah sebabnya orang-orang yang termulia adalah orang-orang yang melihat, membaca dan mendengar sesuatu dengan yaqin. Keyaqinan muncul, karena apa yang dilihat, didengar dan dibaca melalui perantaraan Allah Dzat yang Maha Benar (Al-Haq). Sekalipun kau telah merubah sikap diri dengan tidak lagi berprasangka buruk melainkan berprasangka baik, apakah prasangka baik itu diarahkan terhadap Allah maupun terhadap makhluq lainnya, pada haqeqatnya belumlah dapat dikatakan seseorang telah mendapatkan keyaqinan. Bagaimanapun sesuatu itu bernilai (diprasangkakan baik), pada haqeqatnya masih bersifat duga-duga. Bukankah konteks demikian masih termasuk kategori orang-orang yang belum memiliki suatu keyaqinan? Betapa banyak manusia, khusunya ummat Islam yang berbahasa “berprasangka baiklah kepada Allah”. Maka orang yang arif dengan penuh ketelitian mengkaji kalimat tersebut sebagai orang-orang yang belum yaqin bahwa Allah benar-benar baik. Buktinya masih bersifat prasangka, belum yaqin secara pasti bahwa Allah adalah benar-benar baik. Sebab kalimat yang menyatakan “selalu berprasangka baik sajalah kepada Allah” sama saja masih meragukan kebaikan Allah.


Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Selasa, 12 Oktober 2010

Si Bunga Mawar Berprasangka Buruk

Wahai Si Fulan yang bersifat laksana Si bunga mawar batang berduri! Karena Islam kau ketahui dari sisi namanya saja, yakni dari hasil pendengaran lingkungan, baik itu lingkungan keluarga kecil maupun lingkungan masyarakat, akhirnya Islam kau pandang sebagai suatu tradisi atau budaya nenek moyang. Sehingga tidak kau ketahui isi dari Islam itu sendiri yang haqeqatnya mengandung nilai-nilai luhur berupa:  
* pengangkatan martabat kemuliaan manusia,
* membawa dan mendidik manusia untuk senantiasa berfikir yaqin (tanpa duga-duga maupun prasangka) sebagaimana Allah berbuat terhadap makhluqnya tanpa duga-duga atau prasangka,
* keselarasan jalan hidup manusia selaku kholifahtullah,
* serta keselamatan hidup manusia baik dunia maupun akhirat.
Betapa tidak berartinya “logika manusia” yang telah di dididik bertahun-tahun lamanya, hanya mencetak manusia berfikir duga-duga bahkan selalu berprasangka buruk. Alhasil prasangka buruk tidak saja terarah kepada sesama makhluq bahkan tidak jarang langsung terarah kepada Allah. Memang bila diperhatikan kehidupan bunga mawar, tidak pernah mampu memandang siapa sebenarnya diri. Akibat terlalu buta dan gelapnya daerah hati, maka terpandanglah diri lebih baik dan lebih sempurna dari diri orang lain. Tidak disadari diri ternyata lebih tidak berarti bahkan lebih buruk atau kotor daripada yang diprasangkai. Begitulah cara si bunga mawar menutupi keburukan dirinya. Sebenarnya prasangka buruk itu terhadap sesama makhluq maupun terhadap Allah adalah dirimu sendiri. Misalnya kau berprasangka buruk terhadap fihak lain. Misalnya menduga seseorang adalah kotor, maka apa yang kau tuduhkan kepada fihak lain itulah sebenarnya dirimu.
Agar keburukan pada diri tidak terlihat dan terbaca oleh fihak lain, maka dilemparkanlah keburukan itu ke luar diri, yaitu dengan cara berprasangka buruk. Jadi jelaslah setiap prasangka buruk yang dilemparkan ke luar diri sendiri, sama haln Jadi jelaslah setiap prasangka buruk yang dilemparkan ke luar diri sendiri, sama halnya membuka aib atau keburukan dirinya sendiri. Bagi orang yang sama-sama bermata hati buta, tidaklhidup mata hatinya (dengan dilong hidup mata hatinya (dengan dilontarkannya prasangka buruk) maka dengan mudah mengetahui bagi orang yang hidup mata-hatinya, bahwa sebenarnya itulah diri orang yang sedang berprasangka buruk. Mereka yang berprasangka buruk itu adalah mereka yang tidak pernah mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan sesungguhnya. Sehingga untuk memperoleh kebahagiaan dan kepuasan, jalan yang dilakukan adalah berprasangka buruk. Padahal kebahagiaan dan kepuasan yang diperoleh dari berprasangka buruk hanya dirasa oleh nafsu.
Jika ingin melepaskan diri dari belenggu iblis yang selama ini kuat membelenggu dirimu, seharusnya tempat persembunyian iblis yang ada di hatimu kau gusur dengan tekad bulat. Selama hatimu belum dapat bertekad bulat menggusur iblis dari sudut hati, jangan kau harap Allah dapat mengisi hatimu, sekali pun kau beribadah tunggang langgang, hasilnya hanya laksana buih di pinggir pantai seketika lenyap tidak berarti. Tidakkah kau ketahui ada beberapa tempat persembunyian iblis dihatimu? Jika tempat itu tidak segera kau gusur, selamanya dirimu akan berada dalam rantai ikatan belenggu iblis. “Tempat-tempat” itu adalah: kurang dan bahkan tidak bisa menghargai suami, sebagaimana mestinya seorang istri terhadap suami. Prasangka buruk inilah yang paling banyak menguasai hatimu, baik itu terhadap sesama, khususnya terhadap suami (selalu saja hatimu berprasangka buruk), bahkan terhadap Allah pun kau selalu berprasangka buruk. Akan lebih baik bila kau tidak mengerti apa sebenarnya, maka bertanyalah! Tetapi sikap dirimu tidaklah demikian. Kau suka menduga-duga dan berprasangka. Apakah kau kira sikap demikian itu tidak termasuk dosa?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS.49:12)
Sungguh dosa inilah yang paling banyak di dalam dirimu. Sedangkan prasangka buruk hampir seirama dengan fitnah, sebab fitnah pun belum tentu sesuatu yang nyata.
Wahai Si Fulan laksana si bunga mawar batang berduri! Tidakkah kau ketahui bahwasanya Allah mendidik hambanya untuk senantiasa yaqin kepada sesuatu. Apa jadinya kehidupan ini jika hanya diisi oleh manusia-manusia yang suka menduga-duga dan berprasangka, apalagi berprasangka buruk. Sebenarnya prasangka itu adalah sifat iblis dan sifat binatang. Betapa rendahnya diri manusia khususnya dirimu (seorang wanita yang) telah Allah angkat derajatnya pada tingkat yang lebih mulia, tetapi kenyataan sifat perilaku sebagai tampilan sifat perilaku iblis dan binatang. Contoh prasangka buruk pada binatang adalah, apabila seekor binatang ayam diberi makanan secara langsung, maka sang ayam tidak mau segera memakannya, tapi melihat-lihat dulu pada si pemberi makanan, karena sang ayam berprasangka buruk yakni takut jika dengan diberi makan ayam akan dijebak dan ditangkap. Padahal sang pemberi makan itu semata-mata hanya memberi makanan, karena terdorong rasa kasihan dan memang senang terhadap ayam (bukankah hal demikian ini sama halnya dengan sifat prasangka buruk yang ditampilkan oleh ayam?). Demikianlah pula iblis berprasangka buruk terhadap Allah. Prasangka buruk iblis itu adalah dengan mengatakan keluarnya iblis dari syurga karena tersesat. Padahal kesesatan itu pilihan iblis sendiri. Padahal sebelumnya telah Allah jelaskan, jika iblis tidak mengikuti arahan Allah pastilah ia akan tersesat. Ternyata iblis memang memilih sendiri jalan sesat, tetapi Allah yang dipojokkan oleh iblis dengan menuduh justru Allah yang menyesatkan iblis.
Sebenarnya haqeqat prasangka buruk adalah kedengkian. Tanpa kedengkian tidak akan wujud sikap berprasangka buruk, sebagaimana kedengkian iblis terhadap Adam a.s. Begitu pula prasangka buruk yang ada pada dirimu karena didorong rasa kedengkian. Sedangkan prasangka buruk itu sendiri merupakan perangkap untuk menjatuhkan diri seseorang di mata fihak lain. Itulah sebabnya agar martabat kemuliaan tetap terjaga utuh, Allah didik manusia untuk senantiasa yaqin. Sekali pun prasangka burukmu kau tukar dengan berprasangka baik, itu pun belum termasuk seorang itu yaqin, sebagaimana lazimnya terdengar di tengah-tengah masyarakat, yakni “berprasangka baik sajalah kepada Allah”. Bukankah pernyataan tersebut gambaran pernyataan seseorang yang belum yaqin akan kebaikan Allah? Disinilah letak kehalusan iblis menyimpangkan keyaqinan manusia terhadap kebaikan Allah.
Oleh karena itu apa pun bentuk prasangka, apakah itu prasangka baik maupun buruk, tetap ternilai musyrik di mata Allah. Maka untuk menghilangkan prasangka buruk seseorang, diarahkan untuk senantiasa dekat dan bertanya kepada Allah. Sehingga apa yang dilihat, didengar atau ditelusuri tidak lagi membawa nilai prasangka atau duga-duga apalagi ragu-ragu, melainkan suatu yang yaqin dan nyata. Jika sesuatu terlihat baik, maka dengan keyaqinan itulah memang dipandang baik dan apabila sesuatu itu terpandang buruk, maka dengan keyaqinan itu pula akan terpandang buruk. Sangatlah fatal akibatnya bila sesuatu yang dilihat, di dengar ataupun yang sedang ditelusuri diandalkan pada logika semata. Sejauh manakah kemampuan logika dapat diandalkan untuk menyatakan “sesuatu” itu dengan keyaqinan pasti? Akibat ketidakmampuan logika menyatakan sesuatu yang pasti, muncullah prasangka, apakah itu prasangka baik maupun prasangka buruk. Untuk menutupi ketidakmampuan logika mengangkat sesuatu ternilai sebagai keyaqinan pasti, prasangka atau duga-duga ini dihaluskanlah bahasanya dalam dunia ilmu Yhd dikenal dengan istilah hypotesa bahkan lebih tinggi lagi diangkat sebagai suatu teori yaitu “teori kemungkinan”. Berbeda dengan hamba-hamba Allah yang segala sesuatunya selalu dinyatkan langsung kepada Allah, tidak ada yang tidak pasti perolehannya. Hal buruk akan terpandang buruk dan yang baik tetap terpandang baik.


Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Senin, 11 Oktober 2010

Cemburu Akan Keberhasilan Orang Lain

Demikian halusnya bahasamu wahai Si Fulan, tetapi pada haqeqatnya kau tetap iri dan dengki. Kecemburuan atau keiri-dengkian hatimu lebih banyak terarah pada keberhasilan dunia. Mengapa kau harus iri terhadap keberhasilan orang lain dari segi duniawi. Padahal segala yang duniawi akan musnah dan hancur. Padahal bila keiri-dengkianmu terarah kepada keberhasilan seseorang dalam meraih keuntungan ukhrowi atau rohani masih diperkenankan sebatas untuk usaha memacu diri-mu. Karena dalam firman Allah telah dinyatakan: “Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan” sesuai kadar yang telah ditentukan pada tiap-tiap orang, dan tiap-tiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda. Sebagai contoh seseorang yang telah ditetapkan menjadi wanita tidak bisa menjadi pria. Jika wanita merasa iri melihat kaum pria tidak pernah tehalang dalam beribadah khususnya ibadah sholat yang disebabkan oleh menstruasi, maka sebenarnya wanita tidak boleh iri terhadap pria. Tapi di balik itu masih ada kelebihan wanita yang tidak dimiliki oleh pria, yaitu sifat Allah yang penuh kasih dan sayang. Oleh kerena itu berjalanlah masing-maisng diri di atas relnya masing-masing sebagaimana yang telah ditentukan, karena masing-msing rel mempunyai satu tujuan yang sama, yakni ke hadhirat Allah. Bila semua manusia dicipta dalam bentuk yang sama, berarti Allah bukan yang berkuasa dan bukan pula yang mencipta, karena yang namanya berkuasa pasti mampu mencuipta dalam bentuk yang beraneka ragam.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Jumat, 08 Oktober 2010

Hati Senang, Bila Orang Lain Terkena Musibah

(karena Dipandang Telah Banyak Berbuat Musibah Terhadap Diri)

Apa yang kau ungkapkan itu adalah cara salah. Dengan hatimu merasa senang orang lain tertimpa musibah tidak akan menambah kebaikan pada dirimu maupun kebaikan pada kedua belah fihak. Sementara boleh jadi kau rasakan hatimu memang senang. Tetapi jujurlah bahwa kesenanganmu itu hanya bersifat sementara atau kesenangan semu. Setelah itu hatimu kembali dipenuhi rasa kejengkelan, kemarahan dan kekesalan. Sedangkan orang lain yang terkena musibah, dapat kembali kiprah. Padahal jika kau inginkan kemenangan seumur hidup terhadap orang yang telah banyak merusak dirimu, yaitu dapat terjalin kembali persaudaraan dalam pengertian (saudara kandung atau saudara seiman) maka cara yang paling tepat untuk kau lakukan adalah, dirimu turut prihatin atas musibah yang sedang dideritanya. Sehingga dengan demikian orang yang yang sedang terkena musibah lebih mudah merasakan sentuhan kebaikan yang diberikan seseorang. Bila hatinya telah tersentuh, di sinilah kau peroleh satu langkah kemenangan. Kemuidan kau akan dapat melangkah terus pada langkah berikutnya. Bukan malah merasa senang dengan adanya musibah yang sedang dialami orang lain. Sebenarnya musibah yang sedang menimpa orang lain adalah pancingan buat hatimu, apakah memiliki hati yang lapang dan luas? Dengan kelapangan dan keluasan itu diharapkan dapat memberikan maaf. Ataukah sebaliknya malah berhati sempit kemudian mendo’akan kejelekan baginya dan merasa senang dengan penderitaan musibahnya.
Padahal sikap Allah selaku Pencipta makhluq termasuk manusia, meskipun makhluq termasuk manusia telah berbuat melampaui batasan apa pun, tetap Allah beri kesempatan untuk memohon ampun dan permohonan ampunan itu pun Allah kabulkan, asalkan sang makhluq telah sadar dan mau kembali ke jalan Allah.
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Robbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi keni’matan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (QS.11:3)
Sikapmu mendo’akan orang lain cepat mati, tampak-tampaknya telah melebihi kekuasaan Allah. Renungilah bagaimana perasaanmu, bila kau tertimpa musibah dan ada oang lain yang dengan senang hati melihat musibahmu. Untuk itu ketahuilah bahwasanya setiap manusia mempunyai perasaan hati yang sama. Hanya orang-orang yang berhati lapang dan luas yang beruntung (mereka tidak pernah merasa ada orang yang menyakiti dirinya), bahkan malah dipandang nya sampah jika ada orang lain yang selalu menyakiti dirinya.
Hatimu memang sakit ketika disakiti orang lain. Keadaan demikian itu akibat ketidak-taatanmu pada Allah. Dalam hal ini Allah sangat marah, bila ada hamba-Nya yang tidak ikut andil menciptakan, tetapi merasa senang hati terhadap orang lain yang sedang Allah berikan pelajaran hidup. Seharusnya seorang hamba bersikap santun ketika melihat ada orang lain (yang pernah menyakiti hatinya) diberi pelajaran oleh Allah, merasa haru dan bersyukur kepada Allah. Dengan harapan agar pelajaran dan musibah yang sedang diberikan Allah kepada orang yang pernah menyakiti hati tidak mengenai dirinya. Boleh jadi saat ini orang tersebut berbuat jahat, akan tetapi boleh jadi pula kelak akan kembali baik. Dan orang yang saat ini selalu berbuat baik, kelak boleh jadi berbalik berbuat jahat. Gambaran demikian tersebut banyak sudah terjadi dari generasi ke generasi.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Kamis, 07 Oktober 2010

Mendo’akan Orang Lain Cepat Mati, karena Diri Merasa Terganggu

Tidak ada artinya kau mengharapkan orang lain cepat mati, meskipun mereka banyak berbuat kerusakan hingga mengganggu kehidupan dirimu. Tiap-tiap diri yang berbuat kerusakan, ada baginya kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertobat kepada Allah. Kau do’akan orang tersebut cepat mati, itu hanya karena ketidak-senangan hatimu saja. Mereka itu hanya kau pandang telah banyak merugikan dirimu (nama baikmu). Itulah sebenarnya ujian bagi dirimu; apakah sabar menghadapinya atau kau malah benci kepadanya? Tidakkah kau sadari bahwa orang lain itu juga ciptaan Allah, yang seharusnya kau hargai. Dengan sikapmu membenci mereka, sama halnya kau benci terhadap ciptaan Allah dan Idea Allah. Seolah-olah Allah bertanya: “Apakah dapat kau mencipta yang lebih baik dari itu?” oleh sebab itu wahai Si Fulan! Masalahnya adalah dirimu sendiri yang tidak mau patuh, taat, dan dekat kepada Allah. Kau merasa mampu menghadapi orang yang telah banyak merugikan dirimu tanpa ada sedikipun dari sikapmu untuk mau meminta pertolongan Allah. Tidakkah kau ketahui bahwa do’a orang teraniaya sangat makbul, karena tidak ada batasan dengan Allah. Kenyataan kau tidak melakukan hal itu, kau hanya jengkel dan jengkel, marah dan marah, sakit hati dan lainnya.
Untuk kau ketahui! Selama manusia tidak menampakkan kepatuhan dan ketaatan kepada Allah, selama itu pula iblis akan meniupkan dan mengipas-ngipaskan api permusuhan. Misalnya, dirimu tidak menyatakan permusuhan, tetapi karena tidak ada ketaatanmu pada Allah, maka iblis yang ada pada diri orang lain akan mengipas-ngipas hatimu, sehingga, hatimu menjadi bola permainan iblis. Wahai Si Fulan!, agar hatimu tidak mudah dikipas-kipas iblis, maka kembalikanlah kejahatan itu dengan kebaikan, seperti:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ
Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. (QS.23:96)
* Mendo’akan orang yang sedang dalam cengkeraman iblis agar sadar dapat melepaskan diri dari cengkeraman iblis.
* Manfaat orang yang merugikan diri. Keberadaannya ada di sekeliling diri, dimaksudkan agar diri semakin dekat dengan Allah dan selalu bersifat tangguh.
* Di samping manfaat yang bernilai tinggi, juga sebagai pencambuk nafsu, yang selama ini liar tidak terkendali. Dengan adanya keberadaan orang lain yang sikap perbuatannya selau dirasa merugikan diri akan membuat nafsu sakit. Bila nafsu sudah dapat merasakan sakit, seharusnya sikap nafsu harus mengerti bahwa nafsu itu adalah lemah.


Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas dengkul”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Selasa, 05 Oktober 2010

Sering Mengejek Dan Membandingkan Orang Lain

Terlalu berani kau mengejek makhluq ciptaan Allah. Begitu pula membanding-bandingkan dengan fihak lain. Pertanyaan: “Dapatkah kau menciptakan hal yang lebih baik daripada yang kau ejek itu? Jangankan untuk mencipta, untuk mengerti ciptaan Allah saja dirimu sudah tak mampu. Buktinya: kau selalu menganggap dirimu paling baik! Padahal dirimu tumpukan kepalsuan dan kotoran, yang lebih jelek dibanding dengan orang yang kau ejek. Sadarkah kau haqiqat di balik apa yang kau lakukan dengan pekerjaan adu domba antar sesama? Sebenarnya kau sedang mencari perhatian orang lain dan agar dianggap sebagai kawan yang paling berjasa. Kau adu A dengan B, agar berfihak padamu kemudian A beranggapan: Kau adalah kawan yang paling baik bagi A, maka beritahukan A bahwa B begini dan begitu maksudmu agar B selalu menjelek-jelekkan A. dengan sendirinya A marah dan berterima kasih atas jasa baikmu. Begitu pula B kau perlakukan pula seperti A. Perbuatan semacam ini kau lakukan sebenarnya karena banyak orang yang tidak suka pada dirimu.
Ketahuilah wahai Si Fulan! Mereka bukan saja tidak suka kepadamu, bahkan jauh daripada itu, kau dipandang mereka sangat menjijikkan. Hanya kau saja yang beranggapan semua orang dapat kau dustai. Tetapi ingat, ada hamba-hamba Allah yang tidak dapat kau dustai. Ia tahu polah tingkahmu sampai pada keburukanmu yang sekecil apapun. Kepalsuanmu di hadapan hamba-hamba Allah sangat dipahaminya. Ia tertawa memandang dirimu yang yang tidak lebih laksana lalat hinggap diatas kotoran manusia, tetapi merasa diri bersih dan mulia. Hanya saja, bagi hamba-hamba Allah yang mengerti, hal demikian itu tidak ada gunannya. Apalagi untuk mengungkapkan kejekan orang lain, karena hal itu akan dipandang seperti pekerjaan anjing mencari-cari tulang di sampah. Di matamu boleh jadi hamba-hamba Allah tersebut kau pandang remeh, karena tampilannya tidaklah segagah tampilanmu yang penuh kemilau kepalsuan.
Tapi ingat dan ketahuilah! Sorotan mata hamba-hamba Allah tersebut sangat tajam dan awas karena matanya dipenuhi dengan cahaya Allah. Itulah penyorot keburukan yang dilakukan oleh manusia; sebagaimana Hadits Rasul mengatakan: “Berhati-hatilah terhadap hamba-hamba-Ku, karena dia dapat mengetahui isi hatimu yang paling dalam dengan nurullah”. Dalam istilah agama perbuatan mengadu domba sama halnya dengan penghasut. Figur seorang penghasut seperti yang disebutkan dalam QS.111:4
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (QS.111:4)
Demikian itulah istri Abu Lahab, “Pembawa kayu bakar” (sebagai simbol) untuk menyalakan api kedengkian. Bila telah membakar sangat mudah menjalar ke mana-mana sehingga timbul kepanasan dan ketidak-tenteraman di tengah-tengah masyarakat atau dengan istilah lain adalah fitnah. Fitnah itu laksana api yang dapat merusak dan menghancurkan kehidupan fihak lain. Dengan demikian benarlah apa yang telah dimisalkan oleh sahabat Rasul “Abu Bakar r.a.”. Dia lebih sering mengulum batu daripada banyak bicara. Karena banyak bicara sering mudah melukai hati seseorang. Renungi dan sadarilah dirimu! Cabutlah kata-katamu yang selalu menganggap dirimu lebih baik dan hebat. Padahal kenyataannya tidak lebih daripada istri Abu Lahab. Kau pandai berkata tidak suka atau benci terhadap sifat iblis. Tetapi kenyataannya pakaianmu adalah pakaian iblis, dengan contoh:
* Beranggapan diri lebih baik daripada orang lain.
* Beranggapan diri mampu dalam segala hal.
* Suka mengadu domba, menghasut dan memfitnah.
Semua contoh itu adalah pakaian iblis. Iblis tidak suka Adam a.s berdiam di syurga. Dihasutnyalah bahwa Allah menipu Adam a.s. dengan bukti; Adam a.s. tidak boleh mendekati pohon khuldi, kemudia Adam a.s. pun tergelincir dari syurga dengan kata-kata fitnahan, adu domba atau hasutan tersebut. Begitu pula dirimu yang tidak suka melihat orang lain hidup tenteram. Kau hasut satu sama lainnya hingga timbul kericuhan. Itulah api permusuhan seumpama kayu bakar dibawa ke mana-mana, yang dilambangkan oleh istri Abu Lahab.


Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Senin, 04 Oktober 2010

Membeberkan Rahasia Orang

Wahai Si Fulan yang bersifat laksana si pohon keladi! Rasakanlah pada dirimu sendiri, jika dirimu difitnah, dicaci maki dan dibeberkan rahasia dirimu oleh orang lain. Bukankah kau akan sakit hati dan sesak di dada? Jika kenyataan kau sendiri merasa sakit hati dengan perbuatan perbuatan tersebut, mengapa terhadap orang lain kau sampai hati berbuat demikian? Tampak-tampaknya kau benar-benar tidak menyukai kebahagiaan dan kedamaian orang lain. Kau benar-benar wanita laksana ular berbisa. Perhatikan dan renungkanlah seekor anjing yang sedang lapar mengonggong-ngonggong mencari tulang dari bak sampah yang satu ke bak sampah yang lain. Setelah didapatnya sepotong tulang kemudian digondolnya dan dicecer atau dibeber-beberkannya. Sekiranya anjing yang sedang membeber-beberkan tulang, bertemu dengan seekor bebek tentulah bebek akan menertawakan, dengan ejekan kepada anjing sebagai berikut:
Hai anjing-anjing bodoh yang kamu beberkan itu adalah barang kotor. Barang sampahan yang telah dibuang. Bukankah masih lebih berharga diriku. Karena apa yang kumakan adalah barang bersih yaitu cacing-cacing atau air-air yang ada di sawah. Bebek berkata kembali: “Pantas saja makananmu itu hina dan kotor, karena kepala , perut, dan pantatmu letaknya sejajar, sehingga kau tak bisa berfikir labih baik. Apa yang ada di kepalamu itu hanya untuk kepuasan perut dan isi pantat”. Tetapi bagiku kata bebek: “Kepalaku berada di atas perut dan pantat”. Apa yang kulakukan serba kufikirkan dulu; “Apakah akan mencelakakan fihak lain ataukah tidak”. Hai anjing-anjing! kata bebek berikutnya. Badanmu saja yang besar, tetapi fikiranmu nol. Kau hanya mondar-mandir ke sana ke mari (ngrumpi sana-sini). Sedangkan yang kau peroleh hanya barang kotor dan kotor, lagi menjijikkan. Perhatikanlah sekali-kali diriku ini, kata bebek: “Aku bebek selalu digembalakan oleh penggembala. Pagi aku digiring ke sawah mencari makan. Petang aku pun digiring sang penggembala pulang ke kandang. Diriku patuh pada sang penggembala, sehingga tak pernah dalam hidupku merasa kekurangan atau merasa tidak puas. Di sawah kami saling bercanda ria antar sesama. Tak pernah kami saling bekelahi seperti dirimu itu hai anjing-anjing. kamilah bebek yang paling patuh pada penggembala kami, sehingga mudah saja bagi kami menjalankan hidup ini. Tidak seperti dirimu yang senantiasa kelaparan”.
Demikian itulah gambaran dirimu Wahai Si Fulan, laksana seekor anjing lapar yang menggondol atau membeberkan tulang yang diperolehnya dari tempat-tempat sampah.
Anjing merasa lapar,
Jika tidak mendapat tulang,
Dirimu merasa lapar,
Jika tidak membeberkan rahasia orang,
Yang hanya sakit hati dan luka jiwa,
Demikian itulah pekerjaanmu membuat rugi seseorang.


Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Minggu, 03 Oktober 2010

Menceritakan Orang Lain Dan Menyakiti Hatinya

Wahai Si Fulan bersifat pohon keladi ! Bagaimana kau akan dapat mengeluarkan buah bibir yang menyejukkan bagi si pendengar, jika selalu dimasak di atas hati yang panas, yaitu hati yang penuh dengan kedengkian. Langkah hitam dan pekatnya hatimu. Tetapi bibirmu terus juga berkicau tak henti-hentinya, seumpama kicauan burung. Kicauan burung masih enak didengar telinga. Lain halnya dengan kicauan bibirmu, bukannya kesyahduan yang menyejukkan hati melainkan kicauan yang bisa memecahkan anak telinga. Demikian itulah kau habiskan waktu hari-harimu hanya untuk menyakiti hati siapa saja yang mendengarkan kicauanmu. Jangankan orang lain, selagi suami sendiri tidak betah tinggal di rumah, karena mendengarkan kicauanmu. Baginya suasana demikian laksana bertempat tinggal di neraka. Tidak pernah diperoleh kesejukan dan kedamaian. Hanya gusar panas, dan ribut yang diperoleh. Bibirmu seperti sumber tempat memancarkan api. Perhatikan lampu sumbu tampak menjadi hitam karena asap lingkungan sekitarnya.
Wahai si pohon keladi! Pekerjaan suka menceritakan orang lain dan menyakiti hatinya, merupakan gambaran ketidak-puasan hatimu yang tidak pernah memperoleh kebahagiaan haqiqi. Sehingga kau bermaksud dengan melakukan pekerjaan tersebut dapat diperoleh kebahagiaan itu. Hatimu selalu dikeroyok dan dikerumuni blatung-blatung nafsu, akhirnya setiap saat yang ada hanya gejolak dan gejolak. Kau tidak pernah menyadari wahai Si Fulan bahwa pekerjaan suka menceritakan orang lain itu laksana angin yang menghembuskan bau busuk di tengah-tengah lingkungan atau laksana seekor blatung yang menemukan bangkai lau mencari teman-temannya dan menceritakan bangkai yang ditemukannya. Alangkah hinanya pekerjaanmu itu wahai Si Fulan!
Kau adalah seorang wanita, seharusnya bersifat penuh kasih dan sayang. Tetapi kedua sifat itu sirna dari dalam dirimu, karena kau terlalu menyembah nafsu. Sehingga sifat kewanitaanmu yang seharusnya penuh kasih dan sayang telah berubah menjadi sifat buas seperti seekor singa yang sedang mengembangkan bulu lehernya siap menerkam mangsa. Tidak kau sadari sifat kebinatangan telah menjadi hiasan dirimu. Demikian itulah cara iblis menggeser sifat terpuji dari dalam diri manusia. Pernahkah kau sadari dengan melekatnya sifat kebinatangan dalam diri, merupakan pertanda di saat itu diri sedang menjadi pelayan atau budak iblis? Alangkah bencinya Allah melihat manusia bersifat selaku budak iblis. Kau telah menjatuhkan diri pada tempat yang sehina-hinanya. Oleh sebab itu, jika kau inginkan ampunan Allah, maka sebelum Allah memaafkan kesalahanmu, terlebih dulu kau harus meminta maaf, pada sesama yang pernah kau ceritakan kejelekannya dan yang kau sakiti hatinya.




Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Kamis, 30 September 2010

Mengadu domba

Wahai Si Fulan laksana si pohon keladi! Hidupmu selalu diliputi nafsu. Kedudukan nafsumu lebih dominan dalam urusan mengatur sikap hidup. Segala tindakan hanya untuk memenuhi kepentingan nafsu. Sementara hatimu terpalang dan terpenjara. Batang pohon keladi tampakyanya memang lunak lembut, tapi kelunakan dan kelembutan itu hanya untuk tipuan semata, dimaksudkan agar lebih mudah menjaring. Sehingga tampaklah dirinya sebagai seorang yang berperilaku baik dan menarik. Dengan demikian bagaimana pun kau tutupi cacat celamu dengan penampilan indah menarik, tetap saja akan terlihat dan terpancar dari sikap perilakumu. Seperti sikapmu suka mengadu domba. Sikap ini adalah gambaran pribadi seseorang yang belum pernah mendapatkan kebahagiaan haqiqi. Dimaksud dengan perbuatan mengadu-domba , tiada lain agar bisa diperoleh pujian dari sana dan sini. Itulah yang menjadi tuntutan kebahagiaan nafsu sehingga merasa seolah-olah keberadaan diri bisa mendapatkan pengakuan masyarakat.
Kau merasa takut bila kehilangan perhatian dari lingkungan. Sedangkan anggapanmu bila dapat memperoleh perhatian dari lingkungan akan merupakan obat kebahagiaan bagi nafsumu. Sehingga demi kebahagiaan nafsu, kau tidak keberatan mengorbankan fihak-fihak tertentu. Untuk itu kau lebih pantas jika dikatakan seorang yang membawa penyakit menular di tengah kehidupan masyarakat. Siapa saja yang kau dekati, sampai-sampai masyarakat sekitarmu terjaring oleh penyakitmu. Wahai Si Fulan! Apabila seekor lalat hijau mencium bau busuk, lalat itu pun akan mengerumuni bau busuk tersebut. Kemudian sang lalat bertengger di atasnya. Setelah puas bertengger di barang busuk, lalat pun terbang menghinggapi makanan bersih dan siap untuk dimakan. Adapun sang penyantap tidak tahu, jika makanan tadi baru saja dihinggapi lalat. Akhirnya dimakan begitu saja. Setelah peutnya sakit barulah ia tahu bahwa makanan tersebut telah dihinggapi lalat hijau. Demikian itulah gambaran dirimu yang suka mengadu domba, tidaklah bebeda jauh dengan seekor lalat hijau. Misalnya dari A pergi ke B. kepada B kau ceritaka bahwa A menghina dan mencaci (B), mendengar berita demikian B merasa sakit hati. Sebaliknya kau berpindah pula dari B ke A, kau katakan pada A bahwa B menjelek-jelekkan (A). akhirnya A dan B saling bertengkar. Dari peristiwa tersebut kau dapatkan julukan atau pujian dan ucapan terima kasih baik dari A maupun dari B. adanya pertengkaran A dengan B itulah perbuatan dirimu, atau lasksana lalat hijau yang telah menularkan penyakit. Salah satunya menjadi sakit perut. Penyakit yang ditimbulkan oleh kuman yang di bawa seekor lalat hijau bersarang pada perut. Bila hanya penyakit jasadiyah saja yang ditimbulkan oleh lalat hijau atau kuman adu domba masih dapat diselesaikan secara kedokteran semata. Tetapi jika penyakit adu domba menyerang hati, maka tidak satupun yang dapat mengobatinya. Salah satu pengobatan awal yang dapat dilakukan adalah dengan pengobatan ruhani/hati.


Sumber: Buku Si Paul Peci Di atas Dengkul, Oleh Ki Munadi MS

Baca Lanjut......

Minggu, 26 September 2010

Mengungkit-ungkit Pemberian

Wahai Si Fulan yang bersifat laksana si pohon keladi! Betapa bodohnya dirimu itu. Tidakkah kau merasa malu pada dirimu sendiri. Dalam hal ini kau telah:
* cemoohkan tindak perbuatanmu sendiri,
* mencari-cari perhatian orang banyak agar diketahui bahwa dirimu telah banyak berbuat baik.
Tidakkah kau sadari bahwa kemampuanmu untuk bisa memberi sesuatu sebenarnya karena pertolongan Allah semata. Apakah itu pemberian berupa tenaga atau harta. Sekiranya tenaga yang ada dalam dirimu itu dilepas Allah, apa yang ada dalam dirimu? Dapatkah kau berbuat sebagaimana biasa? Bagaimana dan apa pun caramu mencari-cari perhatian banyak orang, agar diketahui bahwa dirimu ada kebaikan, tidaklah akan terwujud. Sebab, kekotoran dan kecurangan dirimu lebih mewarnai kehidupanmu. Jujurlah pada Allah wahai Si Fulan! Bahwa dirimu selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian sejati dari banyak orang, karena dalam dirimu tersimpan kebusukan-kebusukan, namun menutupi kebusukan dan kejahatan dirimu. Dalam hal ini berarti kau lebih mengutamakan perhatian makhluq daripada perhatian Allah. Kau lebih suka dipuja-puji oleh sesama makhluq. Tapi, ketahuilah bahwa perbuatanmu mengungkit apa yang telah kau berikan seumpama seekor anjing piaraan atau penjaga rumah yang senantiasa mencari dan menuntut balasan atas jasanya menjaga rumah. Tidakkah kau perhatikan, bagaimana cara anjing mencari perhatian? Matanya berkedap-kedip, lidahnya terulur-ulur menjilat-jilat, hidungnya mengendus-dengus. Jika tidak demikian ia akan menggongnggong terus sampai tuan rumah datang memberi makan atau membelai-belai tubuhnya. Berbeda dengan kuda, apa pun yang telah diberikannya berupa tenaga, tidak pernah kuda menuntut perhatian, apalagi jika kuda dibawa berperang. 

Sumber: Si Paul Peci Di Atas Dengkul, Oleh. Ki Munadi MS

Baca Lanjut......

Rabu, 22 September 2010

Berprasangka Buruk Kepada Seseorang

 
Wahai Si Fulan! Kau terlalu suka membolak-balikkan hati, seumpama daun keladi selalu bergoyang-goyang bila ditetesi air hujan. Hati yang dalam keadaan demikian sangat sulit untuk menerima atau memperoleh kebenaran, meskipun kebenaran telah diturunkan di hatimu. Karena hatimu selalu berbolak-balik, maka seketika kebenaran itu lenyap. Jika kebenaran yang diturunkan lenyap dari hati, maka yang tinggal adalah duga-duga, kira-kira atau prasangka. Sedangkan perasaan hati yang demikian itu hanya memperoleh untung-untungan. Keadaan demikian ini tidak akan pernah didapat kebenaran yang meyaqinkan. Apalagi sangka buruk hanya menambah semakin jauhnya diri dari kebenaran. Selagi manusia berprasangka baik saja belum pasti dapat diperoleh kebenaran, apalagi berprasangka buruk. Untuk itu hindarilah berprasangka buruk, berlatihlah selalu dengan hati untuk yaqin. Cobalah kau renungkan kalimat berikut ini: “Berprasangka baik saja kepada Allah”. Pertanyaan : Pantaskah kalimat itu di arahkan kepada Allah? Bukankah pertanyaan itu membuktikan bahwa manusia (khusunya dirimu) belum yaqin bahwa Allah itu sangat baik terhadap makhluq ciptaan-Nya? Pernyataan demikian itu adalah pernyataan filosofis iblis, yang telah mengencongkan ma’na ketauhidan kepada Allah. Sedangkan yang muthlaq hanyalah Allah. Dia Allah selalu memperkenalkan diri-Nya selaku Al-rahman di alam jagad raya. Bahasa “berprasangka baik kepada Allah” (filsafat iblis), menggambarkan sikap iblis sedang berspekulasi. Siapa tahu dengan berprasangka terhadap Allah, agar Allah akan berbaik pula kepadanya (iblis). Sedangkan keputusan Allah muthlaq buat iblis, bahwa dia (iblis) adalah musuh Allah dan musuh anak Adam yang akan menghuni kerak neraka, baik neraka dunia maupun akhirat.
Untuk itu ketahuilah wahai Si Fulan! Islam tidak mendidik manusia untuk menjadi ragu-ragu, yang berkembang menjadi duga-duga, prasangka dan hyphothesa. Islam mendidik seseorang untuk yaqin. Yaqin “itu” adalah benar dan yaqin pula “itu” adalah salah. Tidak ada jalan lain untuk dapat menyatakan: itu benar, ini salah, kecuali hidupnya harus dekat dan akrab dengan Allah, yang akan memberikan kejelasan tegas-pasti akan sesuatu. Jika saja ummat Islam sembada ber-Robbkan Allah, maka kecerdikan dan kecerdasan akan mewarnai kehidupan ummat Islam. Akan tetapi karena ummat Islam terjebak oleh filososis iblis, maka jadilah ummat Islam serupa ummat Yhd. Dalam aspek kehidupan selalu diwarnai oleh duga-duga, kira-kira atau prasangka apapun bentuknya. Bukankah akan lebih baik dan tepat, bila yang diprasangkakan terhadap kasus itu difokuskan dan ditanyakan langsung kepada Pemiliknya (yakni Allah sendiri)? Sebagai contoh: dalam suatu kehidupan di masyarakat. Si A ragu-ragu terhadapB. Bukankah lebih baik jika A bertanya kepada Allah tentang B? Apa dan bagaimanakah sebenarnya B. begitu pula bidang ilmu. Apapun bidang ilmu yang diragukan, bukankah lebih baik jika langsung ditanyakan kepada Allah selaku sumber ilmu? Jika dalam kedua contoh tersebut dipertanyakan kepada sesama manusia, maka kepasti-benaran akan sulit diperoleh.
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja, sesungguhnya persangkaan itu sedikitpun tidak berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS.10:36)
Ketahuilah wahai Si Fulan yang bersifat laksana pohon keladi! Sesama muslim dalam arti seiman itu bersaudara. Persaudaraan yang didasari pertalian darah daging. Perumpamaan persaudaraan yang dijalin keimanan laksana anggota tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka sakitlah anggota tubuh yang lain. Dalam jalinan persaudaraan yang didasari iman, ada timbunan kekuatan tersembunyi yang sangat kokoh. Hal demikian ini menjadi boomerang bagi iblis, maka iblis hembuskan saling berprasangka buruk terhadap sesama muslim seiman. Dimaksudkan untuk mengadu domba sesama muslim, agar timbul perpecahan. Apabila perpecahan telah timbul, maka di sinilah letak kelemahan ummat Islam. Iblis memperkirakan, apabila ummat Islam pecah, akan mudah baginya untuk menguasai manusia.
Ummat Islam adalah ummat yang hidup bermasyarakat, gotong royong, saling membantu; yang kaya membantu yang miskin, dan yang miskin membantu dengan tenaga, yang pandai mendidik yang bodoh. Dengan adanya cara hidup bermasyarakat demikian, tampaklah ummat Islam adalah ummat yang satu dalam segala aspek kehidupan. Masing-masing berjalan, bekerja menurut kemampuan yang ada pada dirinya. Perhatikanlah masyarakat di bawah pimpinan Rasul Muhammad s.a.w. Mereka yang miskin harta, tapi kaya dengan kemakbulan do’a. Siapa yang tidak kenal dengan kaum dhu’afa yang bertempat tinggal di serambi masjid. Mereka semua miskin akan harta, tetapi hatinya kaya. Kekayaan hati kaum dhu’afa yang berada di serambi Masjid mampu menembus hati sahabat utama Rasulullah Muhammad s.a.w.
Oleh karena itu wahai Si Fulan! Tinggalkanlah prasangka dan minta maaflah kepada siapa saja yang kau telah berprasangka buruk kepadanya. Kelak di yaumil akhir, masing-masing diri akan menuntut apa yang tidak ada pada diri orang yang telah kau prasangkai itu, seperti:
• Menuduh seseorang sebagai ahli sihir yang menyihir suami, sehingga suami terpikat dan seolah-olah tak bisa lepas dari keberadaan orang tersebut.
• Sewaktu keadaan diri terjebak perangkap iblis, pembantu diberhentikan dengan alasan yang tidak tepat. Hanya karena malu, pada saat itu terlalu sering perang mulut atau bertengkar dengan suami.
• Jangan berprasangka jelek sedikit pun terhadap sesama, bila sesuatu itu belum diketahui secara jelas atau pasti. Bertanyalah kepada yang bersangkutan, itu adalah lebih baik. Janganlah mudah terjebak pada anggapan jelek terhadap orang lain; bisa jadi orang tersebut banyak manfaat guna dalam hidup.
• Belum tentu yang kamu sangka baik itu adalah baik bagimu dan belum tentu pula apa yang kamu sangka jelek itu, jelek bagimu.
…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS.2:216)
Dari gambaran tersebut, jika pernah terjadi prasangka buruk pada sesama manusia, maka mintalah maaf dan ridhonya, agar kelak tidak terjadi tuntut menuntut antara ruh dengan ruh, karena sang ruh yang disangka buruk tersebut tidak mau menerima apa yang disangkakan/dituduhkan terhadap dirinya.

Baca Lanjut......