Sungguh, hati, rasa , dan ‘aqalmu sudah tidak lagi dapat berfungsi dalam kehidupan diri. Tidakkah kau malu pada Allah yang telah mencipta dirimu? Bagaimana bisa kau menilai orang lain sementara dirimu sendiri tidak pula jauh berbeda dengan mereka? Bahkan bisa jadi keburukanmu lebih banyak dibandingkan mereka yang sedang kau nilai. Seseorang berani menilai, berarti telah berani pula menyatakaan dirinya labih baik dari pada yang sedang dinilai. Berbeda dengan mereka yang telah dikaruniai mata hati. Mereka bersikap bukan menilai fihak lain, tetapi mereka diberitahu oleh Allah, sehingga mereka dapat mengatakan dengan yaqin dan pasti bahwa si A adalah demikian.
Bagaimana perasaanmu jika
ada seseorang menilai dirimu dengan duga-duga, ternyata penilaiannya meleset jauh dari dugaannya? Bukankah kau akan sakit hati, apalagi jika penilaiannya adalah “penilaian buruk”. Dalam dunia pendidikan sering guru menilai muridnya. Keberanian guru menilai muridnya, karena pengetahuan guru berada di atas pengetahuan murid. Maka pertanyaan apakah di saat kau menilai seseorang, kau telah dapat menjamin dirimu telah melebihi mereka yang sedang kau nilai? Sungguh di sinilah letak kezhaliman manusia, telah melampaui batas kuasa Allah.
Demikian itulah sikap dan sifatmu selalu tampil seakan-akan diri lebih baik dibandingkan fihak lain. Sebenarnya penilaianmu itu tidak lain hanyalah untuk menutupi aib dirimu. Tetapi aib-aibmu kau tutup rapat dengan membalikkan keaiban diri pada fihak lain, dengan cara salah satunya ialah banyak menilai orang lain dari pada menilai diri sendiri.
Seseorang yang sadar akan dirinya , dia tidak akan menilai orang lain sebelum menilai jauh ke dalam dirinya sendiri. Bila dalam penilaian diri dijumpai catat-cacat diri maka dirinya tidak sanggup untuk menilai orang lain. Sedangkan mereka yang suka menilai orang lain adalah mereka yang tidak pernah menilai dirinya sendiri. Bahkan tidak pernah menyadari apa dan bagaimana buruknya diri. Hancurnya kehidupan bermasyarakat, disebabkan satu sama lain saling menilai, tanpa lebih dahulu menilai dirinya sendiri.
Oleh karena itu wahai Si Fulan! Haq muthlaq Allah untuk menilai seseorang, “Apakah dia baik atau buruk?”, sebab Allah yang telah mencipta manusia, maka Allah pula yang tahu penyimpangan tiap-tiap diri. Sekiranya logika menyadari penuh bahwa diri manusia itu adalah ciptaan Allah, maka logika tidak akan mampu menilai orang lain. Tetapi karena sifat logika itu sombong, dan selalu mengesampingkan keberadaan Allah, akhirnya sikap logika semaunya menilai fihak lain. Padahal bila satu pertanyaan dilontarkan pada logika, habis dan terpojoklah logika, yakni dengan satu petanyaan: masihkah logika dapat berbangga bila diri manusia itu telah mati? Dalam hal ini logika tidak pernah berfikir sejauh itu, bahwasanya dalam diri manusia ada dzat yang sangat berperan dalam gerak kehidupan manusia , yaitu dzat hidup yang merupakan bagian dari Dzat Maha Penghidup yaitu Allah, sedangkan yang dimaksud dzat hidup dalam diri manusia yang merupakan Dzat Maha Penghidup Allah adalah ruh.
Demikian itulah sikap dan sifatmu selalu tampil seakan-akan diri lebih baik dibandingkan fihak lain. Sebenarnya penilaianmu itu tidak lain hanyalah untuk menutupi aib dirimu. Tetapi aib-aibmu kau tutup rapat dengan membalikkan keaiban diri pada fihak lain, dengan cara salah satunya ialah banyak menilai orang lain dari pada menilai diri sendiri.
Seseorang yang sadar akan dirinya , dia tidak akan menilai orang lain sebelum menilai jauh ke dalam dirinya sendiri. Bila dalam penilaian diri dijumpai catat-cacat diri maka dirinya tidak sanggup untuk menilai orang lain. Sedangkan mereka yang suka menilai orang lain adalah mereka yang tidak pernah menilai dirinya sendiri. Bahkan tidak pernah menyadari apa dan bagaimana buruknya diri. Hancurnya kehidupan bermasyarakat, disebabkan satu sama lain saling menilai, tanpa lebih dahulu menilai dirinya sendiri.
Oleh karena itu wahai Si Fulan! Haq muthlaq Allah untuk menilai seseorang, “Apakah dia baik atau buruk?”, sebab Allah yang telah mencipta manusia, maka Allah pula yang tahu penyimpangan tiap-tiap diri. Sekiranya logika menyadari penuh bahwa diri manusia itu adalah ciptaan Allah, maka logika tidak akan mampu menilai orang lain. Tetapi karena sifat logika itu sombong, dan selalu mengesampingkan keberadaan Allah, akhirnya sikap logika semaunya menilai fihak lain. Padahal bila satu pertanyaan dilontarkan pada logika, habis dan terpojoklah logika, yakni dengan satu petanyaan: masihkah logika dapat berbangga bila diri manusia itu telah mati? Dalam hal ini logika tidak pernah berfikir sejauh itu, bahwasanya dalam diri manusia ada dzat yang sangat berperan dalam gerak kehidupan manusia , yaitu dzat hidup yang merupakan bagian dari Dzat Maha Penghidup yaitu Allah, sedangkan yang dimaksud dzat hidup dalam diri manusia yang merupakan Dzat Maha Penghidup Allah adalah ruh.
Dikutip dan diringkas dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Si Paul Peci di Atas Dengkul”, Halaman: 41, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda Kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.
Baca Lanjut......