Renungan
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَـٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍۢ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَـٰرُ
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, (QS.14:42)

Tampilkan postingan dengan label Lemah Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lemah Iman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

Tidak Dapat Selalu Dzikrullah

Wahai hamba Allah si Fulan!
Bagaimana kau bisa dapat selalu berdzikir kepada Allah, sedangkan pengertian dzikir itu sadar dan ingat kepada Allah dengan sepenuhnya. Untuk memperoleh sadar dan ingat itu sendiri, harus didahului dengan pengertian akan keberadaan Allah sekaligus terhadap kekuasaan Allah yang terhampar di permukaan jagad-raya ini.
Untuk memahami ini pun, diminta agar dapat mengerti terhadap tanda-tanda atau ayat-ayat Allah yang tertempel di seluruh alam ini. Selama seseorang belum dapat memahami tanda-tanda/ayat-ayat Allah tersebut, selama itu pula dzikrullah sulit didapat. Sedangkan hal paling berat yang menutupi untuk bisa memahami tanda-tanda/ayat-ayat adalah LOGIKA..
Kenyataan, sangat disayangkan banyak ummat Islam tidak memahami pengertian dzikrullah. Dzikrullah hanya diartikan pada ucapan yang di ulang-ulang banyak kali. Dzikir hanya dipahami sebatas ucapan bunyi, yang menyebut-nyebut Asma Allah.
Padahal dzikir secara esensi adalah mengerti dengan sesadar-sadarnya terhadap perbuatan Allah, yang begitu indah dan penuh dengan sifat kasih-sayang. Sebenarnya mereka yang dzikir hanya sampai pada kata-kata atau lafadz-lafadz ucapan adalah laksana burung gereja sedang berkicau di pagi hari. Apa yang dikicaukan oleh sang burung tak pernah dapat dimengerti. Bagi sang burung yang penting adalah bersama-sama berkicau.
Oleh karena itu wahai hamba Allah si Fulan!
Tinggalkanlah logikamu! Kemudian pergilah kau menuju ke sebuah hati. Di sana akan kau dapati hati sedang berdzikir. Menyadari akan keberadaan Allah sekaligus perbuatan-Nya. Semakin sering kau bertandang ke hati, semakin jelas kau melihat keberadaan Allah sekaligus dengan perbuatan-Nya. Tidak lagi melihat apa yang dilakukan diri adalah perbuatan diri, melainkan itulah perbuatan Allah yang telah memberikan tenaga dalam diri, sehingga diri lupa dapat berbuat. Dari sinilah kelak hatimu tak akan lupa dari berdzikir kepada Allah. Tetapi ingat! Bila logikamu kembali ikut campur, dzikir yang sedang berlangsung di hati akan pupus seketika itu juga. Sebab logika terus berkerja mengalihkan perhatian pada sekitar “daerah garis” atau “ pandangan garis”. Mengapa hal demikian ini dilakukan logika? Karena logika tak mampu menjangkau atau datang bertandang ke daerah hati, sehingga dengan berbagai alasan ditampilan logika untuk hanya mengalihkan perhatian diri dari hati.
Kesimpulan: seseorang sulit unutk dzikrullah disebabkan pandanganya yang belum sampai pada suatu inti haqeqat. Dalam hal ini pandangannya masih terbatas pada yang lahir atau yang tampak di mata saja, lazim dikatakan “dunia garis”.
Sedang mereka yang berdzikir tanpa pengertian dan kesadaran laksana burung gereja yang berkicau di pagi hari. Realisasi kicauan burung gereja ditampilkan pada kicauan kaum gereja. Mereka berkicau/bernyanyi tanpa mereka mengerti dan sadari akan keberadaan Tuhan mereka.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Lemah Iman”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda Kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Sabtu, 16 Oktober 2010

Kepentingan Selain Allah Yang Didahulukan

Wahai si Fulan hamba Allah!
Renungkan dan resapkanlah dalam hatimu!
* Siapakah sebenarnya yang telah membukakan suara dalam dirimu sehingga kau dapat berkata?
* Siapakah yang telah memasukkan tenaga dalam dirimu sehingga kau dapat bergerak dan berbuat?
* Apakah kau mengira semuanya itu ada dengan sendirinya?
* Tidakkah pernah kau merenung sampai sejauh ini?
* Dan siapakah pula yang menghidupkan dan mematikan seseorang menjadi tak berdaya guna?
* Tidakkah kau ketahui bahwa semua itu datang dari Allah?
* Apakah tidak sepantasnya bila ni’mat tersebut kau syukuri? Dapatkah kau membahas semua kebaikan yang pernah Allah berikan pada dirimu?
Ketahuilah! Allah tidak membutuhkan setetes balasan kebaikan dari manusia. Sebaliknya kebaikan yang dilakukan manusia kembali juga ke diri manusia itu sendiri. Dengan perlakuan sikap Allah meminta sesuatu kepada manusia.
Telah sedemikian rupa Allah bersikap baik kepada manusia, khususnya terhadap dirimu. Tetapi sikapmu selalu berfikiran untuk lebih mendahulukan kepentingan terhadap Allah. Sejenak marilah ajak dirimu dengan kebersihan bathin ke suatu perenungan dengan permisalan dirimu sendiri! Misalnya, kau mempunyai pembantu/anak-buah di suatu pekerjaan. Segala kebutuhannya telah kau cukupi; baik makan, minum, pakaian dan tempat tinggalnya. Tetapi pembantu atau anak-buahmu tersebut, kesehariannya tidak memperlihatkan keta’atan penuh padamu. Sedangkan sikap sang pembantu atau anak-buahmu hanya mau menerima apa saja yang datang dari sisimu selama menguntungkan pribadinya. Tetapi jangan diminta/disuruh untuk sesuatu hal yang dipandang merugikan keuntungan pribadinya. Perhatikanlah sikapnya! Kau telah beri ia makan dan segala kecukupannya. Apa yang telah kau berikan, dimakannya pula tanpa ada timbal balik dapat dia perbuat terhadap dirimu.
Sekalipun kau telah memintanya untuk berbuat sesuatu, misalnya berperan aktif memajukan perusahaan atau pembantu diminta kesediaannya untuk memberi makan dan menjaga anak-anakmu. Tetapi dia malah asyik dengan dirinya sambil berleha-leha. Maka terhadap pembantu atau anak-buah yang bersikap demikian, apa yang hendak kau lakukan pada pembantu yang tak tahu diri itu? Sementara segala kebutuhannya telah dicukupi, tetapi sikap dirinya tidak mau bersyukur dan berterima kasih.
Padahal apabila pembantu atau anak-buah tersebut mau bekerja lebih baik dan lebih ta’at/patuh pada perintahmu, pasti kau akan melipat-gandakan kemurahan kepadanya. Atau terhadap anak-buahmu yang telah kau beri gaji menurut ukuran selayaknya, bukakah tepat bila si anak-buah dimintai pertanggungjawaban terhadap pekerjaannya?
Bila sang anak-bah memperlihatkan kegigihannya dalam memajukan perusahaanmu, pasti kaupun akan bersikap memberikan imbalan berlipat ganda. Sebaliknya bagaimana sikapmu bila anak-buah tidak memperlihatkan kesungguhannya memajukan perusahaanmu? Ia malah sibuk dengan urusan pribadinya, dengan mengesampingkan pekerjaan perusahaan. Tampaknya ia hanya menginginkan imbalan, tetapi tak mau berbuat sungguh-sungguh (patuh pada penjelasan-penjelasanmu). Padahal jika sang anak-buah dapat menyadari, jika perusahaan berjalan lebih maju, bukankah keuntungan akan kembali juga pada dirinya?
Pertanyaan lebih lanjut: “Apa yang kau perbuat terhadap anak-buah yang hanya mau menerima imbalan tanpa mau patuh dan ta’at pada perintahmu?” Sekali, dua kali kau dapat membiarkannya. Tetapi bila terus berkepanjangan, kau pun pasti akan menindaknya. Begitu pula dengan dirimu yang laksana pembantu/anak-buah itu lebih suka mendahulukan kepentingan nafsu daripada kepentingan terhadap Allah. Bagi Allah hal itu tidak mengapa. Karena masing-masing diri telah diberi kebebasan. Dengan kebebasan masing-maisng diri, kelak akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang telah diperbuat diri manusia.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Lemah Iman”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Sabtu, 09 Oktober 2010

Dulu Selalu Durhaka dan Berbuat Celaka

آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ 
Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang–orang yang berbuat kerusakan (QS.10:91)
Ketahuilah wahai si Fulan!
Selamanya kau tak akan pernah dapat merasakan “bagaimana ni’matnya sholat khusuk?” Khusuk itu sendiri adalah pemberian dari Allah. Renungkanlah, “mungkinkah barang bernilai tinggi akan diberikan kepada seorang yang tak pandai mengahargai?” Apalagi memanfaatkan sebagaimana mestinya. Itulah yang terjadi pada dirimu, kau selalu berbuat durhaka kepada Allah, langkah-langkahmu selalu menjurus ke arah celaka.
Bagaimana bisa khusuk kau raih, sementara “SESUATU” salain Allah lebih berkesan dan mendalam pada dirimu dari pada Allah? Jika saja kau sadari sholatmu yang kau lakukan selama ini dari hari ke hari hanyalah menyuburkan buah kedurhakaan, maka kau tak akan pernah habis-habisnya menyesali perbuatanmu.
Justru karena kau merasa diri baik-baik saja (tak pernah berbuat jahat menurut pendapatmu), maka hal inilah yang menutupi hatimu. Memang secara lahiriyah kau tampak baik-baik saja dimata manusia. Tetapi di mata Allah, kau banyak berbuat kerusakan. Kau telah tertipu oleh penilaian manusia. Apakah kau kira sesuatu yang dipandang baik oleh manusia, akan baik pula di mata Allah? Tidak! Betapa banyak sesuatu yang bernilai baik di mata manusia justru keji dan menjijikkan di mata Allah (boleh jadi kamu tak menyukai sesuatu, sedang itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu sedang sesuatu itu tak baik bagimu). Allah tahu sedangkan kau tak tahu:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ 
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS.2:216)
Terlalu banyak bentuk-bentuk kedurhakaan dan perbuatan celaka yang telah kau lakukan. Bentuk-bentuk perbuatan ini sepintas tidak terasakan karena begitu halusnya. Tepatnya dirimu laksana robot yang dijadikan iblis untuk menghancurkan Islam dengan cara pandangan terhadap nilai-nilai Islam sedikit demi sedikit digeser lalu dipalingkan. Sehingga tidak dirasa bahwa pelanggaranmu sedikit demi sedikit terhadap perintah atau larangan Allah yang tercantum di dalam wahyu menjadi sebuah dusta berkepanjangan. Karena kau berkeyakinan Allah maha Pemaaf/Pengampun.
Memang Allah bersifat Pemaaf/Pengampun. Tetapi sifat Allah demikian itu kau permainkan. Buktinya, belum juga muncul kesadaranmu untuk konsekwen sepenuhnya ta’at kepada Allah. Jangan kau impikan ampunan Allah. Ampunan Allah turun kepada hamba yang telah menyadari dirinya salah, lalu bertaubat untuk memperbaiki diri dan tidak mengulanginya lagi.
Untuk langkah awal menuju khusuk ialah:
* Sadarlah akan kedurhakaan diri. Berusahalah untuk memperbaiki diri dengan memohon pertolongan Allah, agar dapat menjalankan sesuatu keta’atan muthlaq secara murni, tulus dan ikhlas.
* Hindarilah perbuatan-perbuatan yang mengarah pada perbuatan celaka dengan cara: Jangan mudah diumpan oleh berbagai kata manis yang haqeqatnya sangat pahit. Khususnya segi-segi dunia ilmu yang sekilas tampak menarik/memukau mata. Tapi haqiqinya pergeseran diri dari keta’atanmu kepada Allah. Hal-hal inilah yang sering menjebak atau memperangkap dirimu jatuh dalam perbuatan celaka (yang otomatis pula, kau jatuh ke perbuatan durhaka).
* Mulailah dimengerti dan menghayati apa yang ada dalam rangkaian untaian kata sholat. Karena bagaimana komunikasi akan dapat berjalan baik atau tersambung, bila apa yang diucapkan belum dimengerti dan dihayati makna rangkaian atau untaian kata sholat. Tindak lanjutnya disadari. Akhirnya mewujud dalam bentuk sikap perbuatan.
* Kunci "keberhasilan" adalah menjalankan keta’atan:
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan/keberhasilan (QS.78:31).
Perintah keta’atan telah nyata menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits, “jangan berpikir untung rugi bagi diri dalam menjalankan keta’atan”. Tidak jarang pula peluru-peluru dalam bentuk rasa khawatir, cemas dan takut yang dimunculkan oleh logika dan nafsu agar gagal melaksanakan keta’atan tersebut.
Agar kau semakin menyadari wahai si Fulan!
Perhatikanlah pohon bambu. Kulit luarnya tampak licin dan halus. Tetapi sayang, di dalamnya keropos. Demikianlah dirimu, tampak lahiriyah lembut menarik. Tapi jiwamu kropos tanpa iman! Hanya karena belas kasih Allah semata kepadamu, kau ditarik Allah dari lumpur kema’siatan masuk ke dalam rahmat. Dengan demikian, Allah selamatkan kau dari kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat (dari siksa dan adzab). Selama ini kau terperangkap dalam umpan-umpan manis dari fihak musuh (dholim, munafiq, fasiq dan kafir). Kau belum merasakan betapa pahit dan sakitnya adzab Allah. Sekali pun kau telah banyak berbuat durhaka kepada Allah, pintu ampunan Allah tetap terbuka. Jika kau memang mau memanfaatkan uluran pemberian kasih Allah, maka manfaatkanlah dengan baik dan maksimal!
Jangan kau rasakan dan kau anggap Allah memaksamu. Sebab di muka bumi ini banyak terdapat hamba-hamba Allah yang menunggu/memohon uluran pertolongan belas kasih Allah. Bagi Allah bisa saja dan sangat mudah untuk mengalihkan atau menggantikanmu dengan mereka yang menunggu (kaum yang lain). Dalam hal ini Allah hanya memberikan penjelasan dengan sejelas-jelasnya kepadamu. Akan kau ambil atau akan kau abaikan itu pun hak mutlak bagimu. Pilihan bebas berada padamu (khususnya) dan umumnya manusia, kelak akan dimintai pertangungg-jawabannya.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Lemah Iman”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Sabtu, 02 Oktober 2010

Melupakan Allah

Kemunafikan dan kekufuranmu kepada Allah merupakan suatu rangkaian yang berkesudahan pada sikap dirimu melupakan Allah. Memang demikian tujuan akhir nafsu (melupakan Allah). Dengan adanya kenyataan sikap dirimu melupakan Allah dalam kehidupanmu, maka nafsumu akan bebas sebebas atau serupa para binatang dalam berbuat apa saja. Nafsumu tidak mau terikat oleh ketentuan-ketentuan maupun aturan-aturan Allah. Nafsumu mau berdiri sendiri. Jika itu yang menjadi keinginanmu dan harapanmu, wahai si Fulan yang sulit untuk tahu dirinya, maka tinggalkanlah olehmu bumi Allah ini. Carilah bumi lain yang dapat kau pakai sebagai tempat pengumbaran nafsumu! Tidakkah engkau sadari wahai si Fulan yang tak tahu diri, bahwa hidup ini haqiqinya hanya menumpang di atas bumi/tanah Allah ini. Bukan hanya bumi yang kau tumpangi ini menjadi milik Allah, tetapi segala yang ada pada dirimu itu adalah milik Allah. Dirimulah yang memulai melupakan Allah, maka Allahpun melupkan dirimu. Buah sikapmu melupakan Allah adalah hidupmu porak-poranda tak tentu arah. Oh, betapa sombongnya sikapmu wahai Si Fulan! Sudahkah ada yang dapat kau hasilkan dengan sikapmu memperturuti nafsu? Renungkanlah, sudahkah ada dampak positif yang ditunjukkan oleh nafsumu itu atau sudahkah ada sesuatu yang dicipta nafsu untuk kebaikan diri?
وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْظُرُ إِلَيْكَ أَفَأَنْتَ تَهْدِي الْعُمْيَ وَلَوْ كَانُوا لا يُبْصِرُونَ
Katakanlah: "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, Kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?" Katakanlah: "Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, Kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?" (QS.10:34)
Dirimu tak bedanya dengan seekor kambing piaraan. Sekalipun kambing ini diberi kandang, pangan dan di jaga, kambing tetap tidak akan pernah mengerti dan menyadari adanya si penggembala. Walaupun si penggembala telah jerih payah menggembalakan ternaknya di padang rumput, selamanya kambing tak mengenal bahkan lupa terhadap penggembalanya.
Sang kambing “hanya tahu bagaimana cara agar dirinya selalu kenyang”. Cara yang ditempuh sang kambing adalah : tak mau tahu terhadap Sang Penggembala. Dengan adanaya sikap tak mau tahu terhadap penggembala, dirinya bisa bebas keluyuran kian kemari. Memang kambing tak pernah merasa dirinya digembalakan oleh penggembala. Anggapan sementara yang ada pada diri sang kambing adalah makanan rumput-rumput yang diperoleh selama ini karena usaha dirinya, mencari sendiri. Apakah dengan cara meloncati pagar-pagar tanaman (meloncati kebenaran/ketentuan yang ada) ataupun masuk mencuri di kebun-kebun yang pintunya terbuka. Semua cara demikian ini dilakukan dengan sikap tidak mau tahu. Nah, begitulah gambaran: “MANUSIA YANG HIDUPNYA MELUPAKAN ALLAH, YANG PENTING PERUT KENYANG, NAFSU BEBAS”.
Tidak mengapa, meskipun diri tidak diperhatikan Allah. Karena, diri masih merasa mampu berbuat untuk memenuhi keperluan perut. Apakah diperolehnya dari hasil curian milik suami atau orang lain, tak menjadi soal bagi kambing.
Betapa rendahnya nilai diri seseorang demikian itu? Bukankah lebih rendah daripada kambing dan binatang pada umumnya?
أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ
Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS.7:179)
 Renungkanlah dengan mendalam, wahai si Fulan!
Sekiranya engkau meminjamkan sebuah rumah kepada salah seorang sahabatmu yang sangat dekat dan akrab. Setelah serah terima dilakukan, rumah itu pun dini’mati oleh sang peminjam. Lama kelamaan dirasakannya bagaikan milik sendiri. Kemudian seenaknya sendiri dipugarnya rumah tersebut. Dan dijadikan sesuka hatinya, sehingga rumah tersebut tampak seakan tidak layak lagi dijadikan sebagai rumah huni. Dalam hal ini sahabatmu telah lupa kepadamu (selaku yang meminjamkan rumah) karena asyik meni’mati rumah yang dirasa telah menjadi milik sendiri.
Selang kemudian kau datangi sahabatmu tadi. Tetapi sahabatmu tak mau tahu. Sahabatmu sudah tak ingat dan tak kenal kepadamu selaku pemilik rumah yang sebenarnya. Malah dengan kedatanganmu, kau diumpat-umpat bahkan telah dipandang mengganggu ketenangannya berada di rumah tersebut. Bagaimana perasaan hatimu melihat sikap sahabatmu? Serupa itu wahai si Fulan! Bukankah hatimu akan marah dan sakit rasanya, karena rumah sendiri diaku sebagai miliknya. Lagi pula sahabatmu tak mau kenal dan tak mau tahu denganmu. Bukankah kau akan memperjuangkannya dengan semaksimal barang milikmu (rumahmu) yang telah diaku orang lain (sahabatmu) agar kembali kepadamu?
Begitulah gambaran dirimu yang telah melupakan Allah. Allah telah pinjami kamu berupa jasad, ruh, rasa, hati, ‘aqal dan nafsu lengkap dengan segala keperluannya. Tetapi semuanya kau aku sebagai milikmu sendiri. Sebagai bukti kau aku sebagai milik sendiri, apa yang telah Allah pinjamkan padamu tak pernah kau jaga dan pelihara dengan baik. Apa yang dapat kau perbuat terhadap jiwa ragamu? Kau telah beranggapan dan merasa diri sebagai milikmu. Sehingga, biasa-biasa saja bahkan melupakan siapa sesungguhnya yang telah menciptakanmu dan yang memilikimu.
Allah datangi dirimu yang sedang berada dalam berbagai kesusahan, kau pun marah dan menggerutu. Allah dekati dirimu karena haqekatnya dirimu adalah milik Allah, ternyata kau malah lari. Begitulah sikapmu selalu melupakan Allah. Betapa kebencian Allah padamu wahai manusia. Namun demikian kasih Allah tetap juga dicurahkan-Nya. Tidakkah kau sadari akibat perbuatanmu itu? Bencana dan sengsara malanda jiwa ragamu dengan bertubi-tubi. Penyakit yang kau derita itulah bukti biang kehancuran rumah tanggamu yang terletak pada dirimu sendiri. Bukan pada anak-anak atau suami. Suami hanya terkena getah perbuatanmu, sehingga dirinya sakit. Bukan sakit fisik, tapi sakit jiwa yang telah kenyang dengan tingkah polahmu yang berada dalam kancah kekacauan terus menerus, maka bertaubatlah kepada Allah saja.
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (QS.11:3)
 Ingat! Bahwa Allah tak butuh taubatmu bila hanya kata-kata saja. Itu hanya hiasan bibir belaka. Tetapi taubat yang Allah perkenankan adalah taubat dengan bukti tindakan nyata:
* Kau sadari dirimu hina dan kotor di hadapan Allah.
* Tinggalkan segala keinginan yang hanya untuk memenuhi kepentingan diri/nafsu.
* Terimalah yang ada sebagai suatu ni'mat karunia dari Allah semata.
* Buanglah harapan dan tuntutan nafsu yang berlebihan laksana daun keladi yang senantiasa menengadahkan daunnya keatas.
* Janganlah mengukur diri dengan ukuran-ukuran orang-orang yang bergelimang kemewahan dan gemerlapnya dunia.
* Balikkanlah daun keladi untuk melihat ke bawah. Kau akan dapati betapa banyaknya manusia yang masih menderita. Mereka kurang pakaian, rumah maupun makan untuk keluarga.
Terjadinya kehancuran pada dirimu, disebabkan kau terlalu menuruti hawa nafsu. Kau paksakan diri agar tampak seumpama mereka yang bergelimang harta dan kemewahan dunia. Dalam hal ini kau tak mau bersyukur dengan apa yang ada.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni;mat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS.14:7)
Kau korbankan rumah tangga, walaupun secara nyata harapan dan tuntutan tidak nyata keluar dalam bentuk lisan tetapi hatimu bergelora.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Lemah Iman”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Selasa, 28 September 2010

Hidup Bingung

Bagaimana dirimu tidak akan bingung? Bagaikan batang kecil jiwamu kerdil, senantiasa digoncangkan dan digoyangkan angin terus menerus. Kau tak pernah merasakan ketenangan. Agar batang ponon ini tidak goncang/goyang, perlu diikat dan disandarkan pada batang yang lebih kuat. Batang Yang Maha Kuat, tiada lain kecuali Allah sendiri. Kenapa Allah-lah diikatkan dan disandarkan segala kelemahan diri. Terhadap kelemahan yang berlarut tanpa diberikan jalan keluarnya pasti akan meinimbulkan ketegangan dan kebingungan jiwa. Dengan adanya kelemahan jiwa, nafsu berusaha keras untuk mewujudkan kekuatan diri. Satu hal yang sangat ditakuti nafsu ialah jika terkena derita.
Sebenarnya yang menggoncang-nggoncangkan atau menggoyang-nggoyangkan jiwamu adalah kekerdilan dirimu. Betapa bodohnya dirimu. Kebingunganmu dibawa kepada seseorang. Sedangkan penyebab kebingungan adalah nafsumu sendiri yang tidak pernah merasa puas, yaitu nafsu yang tidak tertata rapi oleh Al-Qur’an dan Hadits. Nafsu itu sendiri sebenarnya adalah buatan Allah. Sudah seharusnya berjalan di atas ketentuan Allah. Hanya saja karena nafsu tidak terkontrol aktifitasnya, maka jadilah nafsu berjalan menurut semaunya dan sebebasnya. Apa sebabnya kebingunganmu kau bawa pada seseorang? Apakah karena kau beranggapan bahwa seseorang tersebut lebih mampu mengatasi kebingunganmu dari pada Allah? Tidakkah kau ketahui bahwa seseorang tersebut sebenarnya berbuat atas dasar nafsunya juga? Sementara kebingunganmu itu juga diakibatkan nafsumu yang tak teratasi. Akhirnya nafsumu bertemu dengan nafsu orang tersebut. Bukankah malah menambah kebingungan semakin berat?
Sebenarnya, hanya Allah yang dapat menyelesaikan sampai tuntas kebingunganmu. Dan hal ini kau mengerti. Tapi dirimu yang sombong dan lemah tak mau kenal dan mendekat kepada Allah/ padahal satu-satunya yang dapat menaklukkan nafsumu hanyalah Allah. Bila nafsumu yang tak pernah merasa puas diserahkan sepenuhnya kepada Allah, tentu kebingunganmu terselesaikan tuntas oleh Allah. Allah akan bertindak membenahi nafsumu yang suka memberontak. Allah bertindak bukan berdasarkan nafsu, melainkan bertindak dengan Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim terhadap ciptaan-Nya (dalam hal ini manusia bernafsu).
Renungkanlah wahai si Fulan!
Kau berkeinginan agarjiwamu tidak tergoncangkan. Kau datangi dukun/paranormal, bukan semakin mengurangi kegoncangan, malah semakin menambah berat kebingungan. Usahamu mendatangi dukun/paranormal untuk mengatasi kegoncangan jiwa, ibarat batang keladi yang begitu lemah digantungi beban berat. Sudah pasti batang keladi menjadi patah atau terkulai. Apakah menurut logikamu, dengan ditambahkannya beban berat di batang keladi, angin tidak lagi dapat menggoyangkan? Mestinya beban berat yang digantungkan pada batang keladi, diketahui dahulu bagaimana jenisnya, sehingga tidak sembarang beban digantungkan.
Ingatlah! Beban berat (menurut nafsu) namun sebenarnya tampak ringan adalah kekuatan dan kebesaran Allah. Di sinilah mestinya diikatkan dan sandarkan kelemahan jiwa. Bila jiwa telah terikat dengan Allah mau tidak mau atau terpaksa/tidak terpaksa, nafsu akan tunduk kepada Allah.
Wahai si Fulan! Dirimu terlalu banyak berharap dan penuh tuntutan terhadap indahnya dunia. Belum terpegang dan terselesaikan yang satu, kau telah merencanakan keinginan yang lain. Dari situlah sebenarnya awal kebingungan dirimu. Sudah benar jalan yang kau tempuh, sebelum kau menuduh atau berprasangka kepada fihak lain. Terlalu murah kau jual dirimu kepada dunia. Terlalu murah juga kau persembahkan jiwa raga kepada nafsu.
Wahai si Fulan!
Sesungguhnya yang menghancurkan jiwa ragamu adalah nafsumu yang terlal bergelora untuk meraih moleknya dunia. Berarti dirimu tak ubahnya ibarat seekor unta membawa banyak barang indah-indah, tetapi unta itu sendiri tidak dapat meni’matinya. Semakin letih dan payah dirasakan fisik. Sang Unta diperbudak oleh harta. Dalam hal ini disuruh membawa keindahan dan kemewahan dunia, seumpama seekor jarapah. Dia menjangkaukan lehernya untuk mengumpulan makanan sebanyak-banyaknya. Jika demikian kenyataan sikap hidup unta dan jerapah, bagaimana tidak akan muncul penyakit bingung.
Perhatikanlah cara jerapah makan, belum habis buah pada pohon yang satu . sudah memanjangkan lehernya untuk mengambil hasil buah/daun di pohon lain/tempat lain. Demikian pula dengan sang Unta ketika mengadakan perjalanan menggendong banyak beban, belum sampai di alamat, di tengah jalan sudah diisi lagi dengan beban/bawaan lain. Padahal diri sang Unta tidak meni’mati beban yang dibawanya. Bahkan lebih buruk lagi setelah sampai di tujuan bawaan-bawaan tadi diambil dan dini’matinya fihak lain.
Renungkanlah sentuhan firmah Allah ini, sebagai gambaran sang pengejar hiasan dunia:
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. (QS.10:24)

Sumber: Lemah Iman, Oleh. Ki Munadi MS

Baca Lanjut......

Jumat, 24 September 2010

Lemah Iman

Wahai Si Fulan!. Kelemahan imanmu disebabkan tidak adanya upayamu untuk bangkit dari kegelapan. Karena dirimu telah beranggapan, terjerumusya kaki ke tempat lumpur adalah wajar. Sekalipun kau telah mengerti bahwa itu lumpur. Berulang kali kaki terjerumus ke lumpur tidak pernah ada penyesalan terhadap diri. Sebaliknya yang terjadi, (sang Gajah) seakan beranggapan, ini adalah gajah, “zaman modern”. Hidup santai, bersuka-ria, berjalan seenaknya saja, tidak pernah memperhatikan makhluq lemah tak berdaya, seperti rumput-rumput dan tanaman dalam kebun. Kebebasan hidup rumput-rumputan atau tanaman isi kebun, dirusak oleh si Gajah. Dalam hal tertentu memang sang Gajah lihai, yakni ketika sedang memainkan belalainya untuk mematikan mangsa.
Begitu pula halnya dengan dirimu. Kau lihai mempermainkan logikamu untu mematikan lawan atau mangsa. Tapi ketahuilah suatu saat kau akan terperangkap oleh kelihaian logikamu sendiri, yaitu di saat kau terpedaya oleh gelapnya hidup. Kau tak dapat melepaskan diri dari kegelapan, sekalipun kau mengerti bahwa hal itu adalah gelap. Seumpama selembar kertas yang terkena perekat, maka menyatulah antara kertas dan perekat. Inilah kelemahan imanmu, tetapi kau tak mau tahu tentang hal tersebut. Seperti seekor gajah terjerat suasana malam nan kelam. Apakah si Gajah mampu untuk bangkit dan meneruskan perjalanannya? Tidak! Sebaliknya sang Gajah justru asyik meni’mati suasana gelap. Apa yang ada di hati sang Gajah tatkala ia menghadapi malam yang sudah terlanjur gelap? Yang melintas di hatinya adalah kata-kata: yah, sudah! Apa hendak dikata. Akhirnya gelap itu pun dini’matinya. Padahal perjalanan sang Gajah ini masih jauh dan panjang. Sebenarnya mudah bagi Gajah untuk bangkit dari kegelapan.
Apabila muncul secercah cahaya, maka dengan cahaya itulah mata kecil si Gajah atau pandangan sangat terbatas, menerobos perjalanan gelap, yaitu ketika datang cahaya bulan. Tapi hal inipun jarang dimanfaatkan Gajah, karena terlanjur enak meni’mati kegelapan. Jujurlah pada dirimu sendiri. Sebenarnya secercah cahaya sudah berulang kali datang menghampiri dirimu pada saat engkau terperangkap kegelapan, tetapi engkau mengabaikannya. Kau lebih suka memilih kepuasan meni’mati kegelapan. Sadarilah! Selama secercah chaya itu kau abaikan, maka kelemahan imanmu semakin tambah pula. Cahaya itu adalah petunjuk dan tanda agar berwaspada terhadap kebenaranmu meni’mati kepuasan. Dengan bukti: saat kau melakukan perbuatan-perbuatan tercela, di hatimu tersisip kata-kata “ untuk melakukan hal tercela”. Hanya saja karena dirimu sedang asyik meni’mati kepuasan malam, tanda-tanda itu terabaikan saja. Oleh karena itu: “Wahai si Fulan yang tampak perkasa, tapi nyatanya lemah tak berdaya, teroboslah kelemahan iman dengan secercah cahaya, yaitu petunjuk yang sudah tertera dalam Al-Qur’an. Sebenarnya secercah cahaya itu dapat kau fahami, dapat kau mengerti. Hanya saja karena pekatnya malam (hitamnya hati), cahaya itu tak dapat kau mengerti”.
Jika kau sadari dirimu lemah iman, bukankah itu berarti bahwa kau akan mendekati dan mencari yang lebih kuat selaku sandaran diri? Sedangkan yang mampu untuk itu adalah Allah. Tidakkah kau lihat, dirimu dahulu TIADA, dapat Allah cipta, kemudian menjadi ADA dan TUMBUH DEWASA? Apalagi hanya untuk menjadi dirimu bersandar pada Allah, agar menjadi kuat. Hal demikian, mudah bagi Allah:

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Dan apabila mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS.29:19)

Tetapi kebanyakan manusia berpaling dari sisi Allah.


Sumber: Lemah Iman, Oleh. Ki Munadi MS

Baca Lanjut......

Minggu, 19 September 2010

Serba Bingung, Bertanda-tanya

Bagaimana hidup yang enak dan seharusnya?

Wahai si Fulan ! Tidakah kau memperhatikan kehidupan tanaman kacang Tanah? Buahnya tumbuh di dalam tanah. Dengan kata lain tertutup/tertekan oleh sesuatu. Sehingga tidak diketahui oleh sang kacang tanah, BAGAIMANA MENGISI HIDUP INI. DEMIKIANLAH GAMBARAN DIRI MU DALAM HAL INI LAKSANA TANAMAN KACANG TANAH yang TIDAK MENGERTI BAGAIMANA MENGISI HIDUP YANG SESUNGGUHNYA. Keadaan demikian ini bukan hanya diri mu saja melaikan berjuta-juta manusia banyak tidak mengetahuinya.
Tetapi mereka yang tidak tahu itu disayangkan tak pernah berusaha untuk tahu! karena sudah sedemikian rupa ditutup rapat oleh Iblis agar tidak menjadi tahu. sebab, apabila seseorang Manusia telah mengetahui rahasia hidup yang sebenarnya (hakiki), yang teryata lebih enak dari pada kehidupan senda-gurau, memang Iblislah dalam hal ini tidak bisa memperoleh nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya

Baca Lanjut......