Renungan
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَـٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍۢ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَـٰرُ
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, (QS.14:42)

Tampilkan postingan dengan label Kafara Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kafara Nyata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Desember 2010

Minta Tolong Paranormal

Wahai si Fulan! Tidakkah kau perhatikan kehidupan kerbau di dalam kubangan? apa yang dapat ia lakukan dalam kubangan? Demikian pula halnya dirimu laksana kerbau dalam kubangan, tetapi berhasrat ingin memberi pengobatan? Tidakkah ketahui bahwa sehat adalah berawal dari bersih? Dengan cara apa kau akan mengobati? Sedangkan jiwa-ragamu kotor, hati dan ‘aqalmu sakit. Dapatkah orang kotor dan sakit memberikan bantuan pengobatan? Yang benar adalah obati dulu diri, hati dan ‘aqalmu. Barulah kemudian kau memberikan pertolongan kepada orang di luar dirimu. Harapan dan khayalanmu untuk menjadi seorang yang berkeramat telah membuat dirimu menjadi mampu berfikir jauh ke depan. Apakah yang kau lakukan itu benar atau salah seperti praktek pengobatan non medis dengan tidak jelas tuntunannya. Sekalipun telah kau ketahui tuntunannnya benar menurut Qur’an dan Hadits, tetapi bila hatimu tidak taat kepada Allah, malah menambah dosa bagi dirimu. Ketaatan yang Allah maksudkan bukan hanya ibadah yang dilakukan dalam bentuk lahir seperti sholat (sehari-hari) wajib dan sunnah, puasa wajib dan sunnah atau zakat, infaq dan sebagainya. Melainkan ibadah dalam bentuk sikap mental hati dan perbuatan terhadap sesama makhluq yang Allah cipta. Satu pertanyaan dilemparkan kepada mu: “Apa tujuanmu melakukan sholat itu?” Sadarkah kau akan kata-kata yang kau ucapkan dalam sholat itu? Hal ini saja belum becus kau fahami, sudah mengaharapkan menjadi seorang keramat/sakti. Tahukah kau selama ini, dirimu seumpama orang gila berkata dan berucap tiada hentinya, tapi tidak kau ketahui maksud dan tujuannya atau laksana orang yang sedang mabuk untuk meraih khayalannya? Cobalah buka mata-hatimu wahai si Fulan! Ibadah dan ketaatan tak dapat kau pisah-pisahkan, keduanya merupakan satu mata rantai, dalam berhubungan erat kepada Allah. Bukan hanya hubungan horizontalmu dengan sesama makhluq ciptaan Allah. Terutama anak dan istrimu, yang menjadi tanggung-jawab dan amanah dari Allah. Sedangkan salah satu wujud ketaan yang Allah mintakan ialah berbuat kasih-sayang, lembut-hati, penuh perhatian terhadap sesama.
Pernahkah hal demikian ini kau lakukan wahai si Fulan? Kenyataannya sifatmu sangat kaku dan beku, laksana sebuah robot. Hatimu gelap dan keras, tak ada kelembutan yang tersimpan di sana. Bagaimna kau akan melakukan pengobatan, jika kelembutan dan kasih-sayang tidak menghiasi sikapmu? Boleh jadi sepintas apa yang kau lakukan itu, terbukti kenyataan. Tapi dengan kenyataan demikian itu, apakah dapat diperoleh rasa damai, sejuk, cerah terhadap orang yang kau tolong dalam praktekmu itu? Bila hal ini tidak kau peroleh, maka apa yang kau lakukan itu tidak lain hanyalah praktek iblis semata, karena kau telah menjadi kaki-tangan iblis. Apakah kau pernah mendengar bahwa iblis itu berhati lembut, penuh kasih-sayang? Sesungguhnya iblis itu bersifat kaku dank keras. Tidakkah kau pernah mengetahui betapa lembut dan sayangnya sikap hati dan perbuatan Rasul Muhammad s.a.w. terhadap sesama makhluq yang beriman dan menghargai orang kafir tanpa dendam dan kebencian.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Kafara Nyata Pecah Niyat-Ucap & Sikap”, Halaman 24, (Gambar: Admin), Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda Kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Rabu, 15 Desember 2010


Menelan Akik Untuk Keselamatan ~
Belajar Ilmu Yang Tampaknya Seperti Islam
Nafsu mengelora untuk menjadi seorang yang serba bisa, laksana Nabi Sulaiman atapun hamba-hamba kekasih Allah yang lainnya. Segala cara berbau Islam kau lakukan. Tapi apa yang lakukan itu tak pernah kau renungi dengan ‘aqal sehatmu. Seperti, kau telan sebuah batu akik berwarna merah, kemudian kau pandang sebagai bertuah. Jika bukan karena dorongan nafsumu untuk menjadi seorang yang keramat, tak akan kau lakukan hal itu. Mengapa engkau begitu bodoh, wahai si Fulan?

Mengapa kau tidak pernah mau tahu untuk memahami kebenaran? Kau pandang semua itu benar, bila berbau Islam. Tapi apakah masuk di ‘aqalmu suatu benda mati mampu memberikan manfaat-guna. Ketahuilah olehmu, bahwa Islam itu dapat dan sangat mudah untuk diterima ‘aqal. Pertanyaan: “Dapatkah diterima ‘aqal, apa yang kau lakukan?” Jika benar sebuah batu akik yang kau telan itu bertuah dan menjadikan manusia keramat, maka tak perlu Nabi melakukan perang secara fisik terhadap kaum kafir. Cukup dengan menelan batu akik untuk menundukkan lawan hingga menyerah kalah. Nabi yang sudah pasti syurganya dan merupakan seorang manusia suci/tanpa dosa, tak pernah melakukan seperti yang kau lakukan itu. Lalu siapa yang kau teladani dalam hal ini? Dan siapa pula yang kau yaqini dalam hal ini? Begitu jauh sudah kau remehkan para Nabi Allah. Kau terlalu bernafsu untuk menjadi seorang keramat. Seorang yang berkeramat belum tentu sholeh di hadapan Allah yang murni. Sebab iblis pun dapat menjadikan seseorang berkeramat.

Di mata Allah, seorang hamba yang benar adalah hamba yang cukup ketaatannya konsekuen tanpa pamrih menginginkan sesuatu. Jika akik itu memang benar bertuah dan dapat berbuat sesuatu, tak perlu lagi ada pabrik pakaian. Cukup dengan akik yang kau telan itu, kemudian datanglah pakaian. Cobalah buka hati dan ‘aqalmu. Renungkanlah sesuatu yang kau lakukan itu! Sudahkah benar adanya semua itu?

Jangan kau biarkan dirimu berlarut-larut dalam kubangan sebagaimana kerbau. Sebab hanya akan menambah khayalanmu semakin tinggi. Padahal khayalan itu tidak kau ketahui dengan jelas bagaimana untuk memperolehnya, semua cara asal ada Islamnya kau anggap benar. Mengapa kau tak dapat menyalahkan cara-cara yang tidak dituntun Rasul, padahal dirimu telah diberi ‘aqal untuk bertanya dan mengerti. Tapi karena nafsu diri yang dituruti, berkhayal tinggi ingin menjadi orang sakti sehingga ‘aqal tak berfungsi.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Kafara Nyata Pecah Niyat-Ucap & Sikap”, Halaman 22, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda Kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang

Baca Lanjut......

Rabu, 20 Oktober 2010

Syirik

Harapan-Harapan Kau Curahkan Pada Makhluq Atau Pemberian-Nya, Merupakan Kebodohan Logikamu.

Sebelum penjelasan lanjut, kembali pertanyaan dilontarkan pada dirimu, yakni: “Adakah sesuatu yang dicipta dapat memberikan harapan-harapan?” Secara logika kau akan mengatakan, bahwa “Sesama makhluq dapat memberikan harapan-harapan”. Bukankah harapan itu laksana buih yang dihempaskan ke pantai, hendak dijangkau kemudian ia hilang. Meskipun sekejap dapat dipegang, tapi bukankah sifatnya sementara? Harapanmu tergantung pada materi. Dapatkah materi itu kau pertahankan lama? Sedangkan materi itu pergi-datang silih berganti. Dengan keadaan materi yang demikian itu, hatimu menjadi terombang-ambing karena bergantung kepadanya. Dalam hal ini kau telah menjadi permainan materi. Tidakkah kau sadar jika sebenarnya dirimu menjadi benda bulan-bulanan. Betapa bodohnya dirimu!
Dalam hal ini jika bukan materi yang menjadi harapanmu, ya pangkat, kedudukan dan posisi. Disinilah kebodohanmu wahai si Fulan! Kau tidak pernah merasa jika pangkat, posisi telah memperbudak dirimu. Bukankah pangkat dan posisi hanya memekai dirimu selagi muda, kuat dan bertenaga. Bila dirimu telah tua, apakah posisi jabatan, pangkat dapat memakai dan menghargai dirimu? Bukankah sebaliknya kau akan ditendang, diturunkan dari tempat tersebut? Jikalau harapanmu kau gantungkan kepada sesama manusia, cobalah kau renungkan hal itu! Sementara manusia dapat menjadi harapanmu. Tapi suatu ketika manusia dapat pergi dan mati. Akhirnya hanya kecewa dan putus asa kau jumpai. Akibatnya bagi siapapun yang tak mau peduli kepada Allah, pasti tidak akan pernah memperoleh kepuasan. Tidakkah pernah kau memetik kisah Fir’aun? Fir’aun adalah seorang yang hidupnya bergelimang harta-benda, kedudukan, pangkat, dan jabatan. Apakah semua itu dapat memberikan harapan yang nyata? Sebaliknya apa yang dapat ia peroleh, tidak lain hanyalah kehancuran belaka. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:
وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ
Dan (juga) Qarun, Firaun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). (QS.29:39)
فَكُلا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الأرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS.29:40)
Bila logika yang yang kau jadikan sebagai pedoman hidupmu untuk melayani pemuasan kepentingan pribadimu, maka kebuasan dan kelicikanlah yang akan muncul. Tak pernah kau fikir dan rasakan. Apakah orang lain akan menderita akibat polah-tingkahmu? Jika logikamu mampu kau jadikan pedoman dalam hidup, maka dapatkah logikamu memberikan pelayanan untuk menghilangkan ketidak-puasan dalam bathinmu hingga kini? Atau, mampukah logikamu melayani ketenangan bathinmu, yang kacau bingung tak menentu tujuan? Dalam hal ini kau bangga terhadap logikamu, karena ia dapat memberikan keberhasilan studimu. Padahal logikamu itu adalah licik; karena kau selalu perhitungkan untung rugi perbuatanmu. Sifat perbuatanmu adalah pamrih. Inilah kelicikan dan kepicikanmu.
Tidakkah kau sadari darimana logikamu itu kau peroleh? Dengan hadirnya logikamu kau telah meremehkan petunjuk pedoman yang datang dari sisi Allah. Padahal logikamu sebenarnya tidak bedanya dengan kotoran manusia yang tak ada arti dan nilainya, atau laksana kayu lapuk yang menjadi keroyokan rayap saja. Lalu apa dapat kau andalkan dari logika yang ada? Jangan kau bangga berguna, karena kau dapat menyumbangkan ilmu yang ada. Ilmu yang kau sumbangkan tak mungkin kau sumbangkan jika bukan karena imbalan atau jasa. Hal demikian tersebut bukankah seperti seorang pekerja?
Bagaimana jika dibanding dengan kerbau-tua? Kerbau telah dapat berbuat menyuburkan tanah. Digarapnya sawah dengan menarik bajak, tanpa motif imbalan jasa dari manusia. Lebih berharga mana, kerja kerbau–tua dengan kerja logika manusia? Tampak–tampaknya betapa kejamnya manusia dengan logika yang hanya dipakai untuk sikut-menyikut dengan sesamanya, saling menjatuhkan. Yang penting puas-diri akan segala-galanya. Itulah logika manusia. Ternyata logika tidak mampu untuk mencarikan jawaban pasti terhadap nilai dan arti dalam diri sendiri, apalagi untuk pedoman hidup.
Lain halnya dengan penggunaan “aqal. ‘Aqal bekerja untuk menciptakan keselarasan semua fihak. Sebab keberadaan ‘aqal hanya untuk memikirkan dan mengelolah hasil bumi yang ada, agar dapat dini’mati bersama. Bukan sebagaimana logika keberadaannya untuk menentang dan menyaingi pedoman yang telah ada di Al-Qur’an dan Al-Hadits. Renungkan seekor kambing yang masuk dan merusak kebun seseorang yang telah ditata. Maksud si kambing itu hanya untuk memenuhi keinginan nafsunya. Kebun yang telah ditata tumbuh dengan suburnya dirusaki kambing. Bagi kambing wajar berbuat demikian, karena yang penting kepuasan dirinya tercapai. Mengapa demikian? Karena memang kambing tidak diberi ‘aqal. Bagaimana dengan dirimu yang telah diberi ‘aqal? Mana yang lebih bodoh antara dirimu dengan seekor kambing?

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Kafara Nyata Pecah Niyat-Ucap & Sikap”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda Kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Senin, 18 Oktober 2010

Syirik

Beladiri “Tenaga Dalam”
Wahai si Fulan yang bersikap penuh dengan kepicikan! Di bumi manakah engkau berjalan? Begitu mudahnya kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong seolah-olah tak ada satu makhluq pun yang berani mendekatimu. Namamu sungguh indah bersandangkan kewibawaan. Apakah dengan sandangan wibawa ini engkau akan aman bekeliaran? Ya, sepintas orang umum akan memandangmu seorang yang kuat tak terkalahkan. Tapi pernahkah engkau berfikir bahwa: “Benarkah mereka takut atau apakah tidak sebaliknya mereka sinis dan benci padamu?” Dalam hal ini tidak pernah kau merenungkan seekor serigala meraung berjalan kian-kemari sambil menggoyang-nggoyangkan ekornya. Keberanian sang harimau berjalan kian-kemari disebabkan sang harimau merasa bahwa tak satu pun makhluq hewan hutan yang berani mendekatinya. Memang kenyataan semua makhluq yang ada di hutan, apabila melihat seekor harimau mereka langsung besembunyi. Apakah karena bela-dirimu, kau merasa bebas berjalan sendiri kian-kemari? Bagaimana perasaan hatimu bila semua manusia menyembunyikan diri di dalam rumahnya, karena melihat dirimu, sehingga kau benar-benar seorang diri? Bukankah hal demikian itu suatu kehinaan bagi dirimu, lalu apa yang kau peroleh dengan hidup seorang diri?
Kau memiliki beladiri, berarti kau akan menundukkan semua manusia atau mengalahkan semua manusia. Itu tandanya engkau akan mengalahkan Allah. Dalam hal ini kamu tidak akan menjawab: “Tidak!” Bukan Allah yang engkau tangkis! Tapi pernahkah logikamu berfikir dan merenung bahwa manusia yang berada di luar dirimu adalah milik Allah dan ciptaan Allah? Jika mereka yang hendak kau kalahkan/tundukkan, berarti kau ingin menundukkan Allah? Jika demikian, di mana letak kau menghargai ciptaan Allah? Itu tandanya kau telah berani meremahkan ciptaan atau hasil-karya Allah. Ketahuilah, logikamu itu sesungguhnya sangatlah dangkal! Buktinya kau tak mampu memandang di balik manusia adalah Allah. jika kau mengerti dan mampu memandang di balik manusia adalah Allah, tentulah kau akan bersifat ramah dan saling menjaga. Hatimu telah buta wahai si Fulan, akibatnya kau hanya dapat meraba apa yang ada tanpa dapat berbuat dan memandang apa sebenarnya yang kau raba. Seumpama orang buta, berjalan meraba-raba ketemu dengan suara seorang manusia. Tapi tahukah si buta, siapa sebenarnya manusia tersebut?
Wahai si Fulan yang berfikir licik! Apa sebenarnya hendak kau peroleh dari hasil beladiri? Hendak mengalahkan manusia atau agar diri tetap bertahan dari segala serangan? Bukankah itu berarti dirimu hendak menyaingi Allah! Tahukah bahwa yang kekal tak terkalahkan oleh apa dan siapa hanyalah Allah saja? Tidakkah kau sadari bahwa dirimu adalah makhluq ciptaan? Bukankah makhluq ciptaan itu lambat atau cepat pasti akan hancur dan sirna? Pernahkah logikamu kau bawa memikirkan bahwa apapun bentuknya yang dicipta itu akan hancur sirna? Carilah di seluruh muka bumi ini, adakah sesuatu yang dicipta dapat bekekalan? Cobalah kau merenung lebih dalam wahai si Fulan! Adakah suatu hasil cipta itu tampak menyenangkan dan memuaskan. Semua itu sifatnya sementara, yang akhirnya ia akan habis musnah ditelan masa. Ambillah contoh: apakah rumah, kendaraan, jalan, pabrik, alat rumah tangga dan lain-lain yang semuanya itu dicipta, dapat bertahan? Begitu pula dengan beladiri yang kau miliki, bukankah itu hasil cipta dan usaha manusia. Lalu apa yang dapat dijaga dari beladiri yang ada. Sementara ia (beladiri) dapat kau banggakan. Tapi pernahkah kau berfikir bila suatu saat habis masanya dirimu kembali kepada kelemahan dan ketidak-berdayaan? Itulah gambaran dirimu laksana rumah laba-laba.
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba- laba kalau mereka mengetahui. (QS.29:41)
Betapa lemahnya rumah laba-laba yang seketika dapat hancur dan roboh. Tapi walaupun rumah laba-laba lemah, masih dapat memberikan jasa dua orang yang suci sewaktu di gua: Rasulullah Muhammad s.a.w. dan sahabatnya Abu Bakar. Lalu bagaimna dengan dirimu: "Apakah yang telah dapat disumbangkan dari hasil bela dirimu itu untuk kepentingan ummat? itulah sesuatu yang dicipta yang tak memberikan sumbangan apa-apa. Dan penjagaan? Hanya Yang Menciptalah yang mampu memberikannya; demikian pula Perawat terhadap yang dicipta/manusia hanyalah Allah. Dengan demikian selaku Penjaga manusia adalah Allah. Betapa bodohnya logika manusia, serupa keledai dungu yang memainkan telinganya.
Sebenarnya mereka yang mencari beladiri itu adalah lemah dan ringkih. Dengan beladiri itulah untuk menutupi kelemahan dan keringkihan dirnya. Padahal manusia yang kuat dan berani adalah tak takut kepada apa dan siapa, kecuali rasa takutnya hanya tertuju kepada Allah. Tak perlu menggunakan topeng beladiri sebagai bentengnya. Allah yang Maha Kuat adalah bentengnya yang tak akan terkalahkan oleh apa dan siapa.
Bagaimana pula dengan logikamu, bahwa perhitungan dengan memakai hari tertentu dapat memberikan keselamatan? Renungilah mendalam wahai si Fulan! Bagaimana hari tertentu dapat memberikan keselamatan, sedangkan hari itu sendiri tidak kau ketahui bentuk dan nyatanya. Mungkinkah suatu yang tak nyata dapat berbuat.Sedangkan keselamatan itu sifatnya perbuatan. Pertanyaan: "Dapatkah dirimu membedakan hari yang satu dengan hari yang lainnya?" Tidakkah kau ingat, bahwa hari itu sendiri sifatnya aktif berputar pada orbitnya. Sehingga masing-masing hari memiliki pagi, siang, petang dan malam. Hanya suasanalah yang membedakan masing-masing hari tersebut, yakni hujan, dingin, panas. Logikamu akan menjawab bukan harinya yang memberikan keselamatan, melainkan perhitungan jumlah angkanya. jika satu pertanyaan dilemparkan pada dirimu, yakni: "Adakah angka itu sendiri dapat berbuat sesuatu kepada manusia?"
Ingatlah wahai si Fulan, Islam itu sesuai dengan 'aqal dan dapat diterima 'aqal. Lalu apakah dengan perbuatanmu menggunakan perhitungan hari-hari tertentu dapat memberikan keselamatan. Bisakah diterima 'aqal sehatmu, wahai manusia? Inilah keangkuhan dan kesombonganmu, perhitungan hari lebih diutamakan daripada Allah untuk mencari keselamatan.
Dapatkah kau merasakan bila seorang anakmu melindungkan dirinya pada seekor kucing yang tak dapat berbuat apa-apa? Padahal sang anak sangat takut dan khawatir pada sesuatu, sementara kau sendiri berada di depan. tapi dia tidak mau mendekat dan meminta bantuanmu, malah si anak berlari menuju seekor kucing yang sedang tidur itu. Bukankah hatimu berkata bahwa jangan-jangan anak tersebut gila. Ketika itu kau kasihan melihat si anak yang fikirannya telah gila tak dapat membedakan apakah seekor kucing itu dapat atau tidak membantu memberikan keselamatan jiwa raganya.
Begitulah dirimu, bila 'aqalmu tidak dapat membedakan sesuatu. Serupa dengan anak yang sedang gila, sehingga hari-hari tertentu dianggap dapat memberikan keselamatan. Padahal sebagaimana Allah telah jelaskan sesuatu yang di cipta tak mampu memberikan keselamatan kepada yang mencipta. Begitu pula kepada sesama yang dicipta tak akan dapat memberikan keselamatan. hari atau manusia; Allahlah yang mencipta dan yang memberikan keselamatannya.
Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Kafara Nyata Pecah Niyat-Ucap & Sikap”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......