Renungan
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَـٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍۢ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَـٰرُ
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, (QS.14:42)

Tampilkan postingan dengan label Bahtera Paduan Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtera Paduan Cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Oktober 2010

Pergi Tinggalkan Rumah, Tanpa Idzin Suami

Wahai si Fulan yang hidup laksana si pohon kacang tanah! Sangat besar resiko seorang istri keluar rumah tanpa idzin suami. Bagaimana juga, wanita tetap menjadi fokus perhatian kaum laki-laki, yang kemudian sangat mudah menimbulkan fitnah. Mengapa Islam mendidik demikian ketatnya terhadap para wanita atau istri agar mereka tetap lebih banyak berada di rumah? Karena kelemahan wanita sangat mudah dijadikan incaran dan sasaran iblis yang pada akhirnya dapat menghancurkan pribadi wanita itu sendiri. Sedangkan keberadaan iblis pada diri wanita yang tidak taat kepada Allah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dunia ini indah dan molek dipandang wanita. Diri wanita pun indah dan molek. Keindahan dan kemolekan menjadi kesukaan wanita. Sisi lain keindahan dan kemolekan diri menjadi giuran dan gelitikan goda bagi hati laki-laki.
Biasanya, bagi wanita atau istri yang tidak beriman dan taat pada Allah. Pesona dunia sering menjebak dan menjaring dirinya, sehingga banyak wanita atau istri yang lupa peran dirinya selaku ibu dari anak-anaknya dan istri tempat membagi rasa bagi suaminya. Untuk menjaga dan menutup rapat pintu rumah-tangga dari penculikan–penculikan iblis, maka diwajibkan pada seorang istri untuk meminta idzin pada suami bila hendak keluar rumah. Apalagi bila suami sedang tidak ada di rumah. Sebab bila ada apa-apa yang terjadi pada diri istri, meskipun keluar rumahnya karena ada kebutuhan yang dipandang harus disegerakan. Selama nilai kebutuhan itu tidak membahayakan diri dan anak-anak, selama itu pula kebutuhan yang dipandang harus disegerakan masih bisa untuk ditangguhkan. Jika memang kebutuhan keluar rumah itu sampai mengancam keadaan jiwa istri dan anak-anak maka sebatas keadaan demikian tersebut masih dapat seorang istri keluar rumah tanpa idzin suami, karena keadaan demikian termasuk keadaan terpaksa.
Jika suami tidak ada di rumah dan sewaktu-waktu sang istri akan keluar rumah, maka langkah yang baik adalah perlunya suatu perjanjian dari suami kepada istri, bahwa suami dapat memberikan idzin kepada istri untuk selamanya khususnya setiap suami tidak berada di rumah, dengan syarat keluarnya istri dari rumah tidak menyalahi aturan Allah dan Rasul. Dengan adanya kebijakan suami memberikan idzin kepada istri sepanjang masa, istri tidak akan merasa dirinya terpenjara atau laksana binatang piaraan yang sedang dikurung. Dalam hal ini, sangat suami diminta perhatian penuhnya terhadap istri, sebab istri yang lebih banyak di rumah biasanya akan mudah mengalami kejenuhan dam kesumpekan. Ia memerlukan udara segar dan suami dituntut agar selalu menciptakan kesegaran baru di dalam rumah-tangga. Suami yang bijak, yaitu yang dapat memberikan kesegaran-kesegaran baru di dalam rumah, maka untuk memenuhi kebutuhan udara segar, sang istri tidak mesti harus keluar rumah. Misalnya sikap suami harus dapat memberikan sentuhan lembut ke dalam bathin istri. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah bagaimana kedua belah fihak sama-sama dapat menciptakan kesegaran-kesegaran baru sebagai langkah mencapai keharmonisan di dalam rumah tangga. Jangan sampai terjadi suami hanya mementingkan diri sendiri tanpa sempat memikirkan kebutuhan istri atau sebaliknya istri sibuk memenuhi kepentingan pribadinya tanpa sempat menaruh perhatian terhadap kebutuhan suami. Jika masing-masing kedua belah fihak sama-sama dapat saling menutupi kejenuhan dan kekurangan, disitulah munculnya percikan-percikan cahaya keharmonisan.
Sadarilah! Wahai para wanita Ibu dan Istri! Kodrat dirimu lebih banyak di rumah bersama anak. Cobalah perhatikan induk ayam atau pun induk bebek. Apabila ia mulai bertelur dan mengerami telur, induk ayam atau pun induk bebek sama sekali tidak mau meninggalkan telurnya. Begitu penuh perhatiannya induk ayam atau pun induk bebek terhadap calon-calon anaknya. Kedua induk itu hanya sekali-kali meninggalkan sangkar, itu pun karena kebutuhan makan dan minum. Setelah itu, mereka kembali ke sangkar hingga telur menetas. Tampaknya fungsi keibuan lebih dominan tersikapi di kalangan induk ayam atau pun induk bebek daripada ibu ibu (manusia), di mana ibu-ibu (manusia) baru saja dua hari melahirkan, anaknya sudah ditinggal dan diitipkan.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Bahtera Paduan Cinta Di Atas Lautan Ketaatan Kepada Allah Rumah Tangga Bahagia”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang.

Baca Lanjut......

Kamis, 14 Oktober 2010

Kebutuhan Suami Dilayani Tanpa Niat Karena Allah Melainkan Dengan Jengkel, Dan Tidak Telaten

Iblis telah berhasil memancing dirimu yang kau sendiri tidak mewaspadainya, yaitu dengan:
* tanpa niat karena Allah,
* hati kecewa,
* hati jengkel, kesal, marah.
Tahukah kau wahai si Fulan laksana pohon kacang tanah! Iblis selalu berupaya memancing dirimu agar tampak seperti wanita nakal atau berakhlaq rendah. Hanya wanita nakal atau berakhlaq rendah sajalah yang memberikan pelayanan pada laki-laki atau suami tanpa niat karena Allah. Wanita nakal melakukan pelayanan kepada laki-laki dengan hati tersiksa. Begitu pula halnya dengan dirimu. Tidakkah kau sadari hal demikian ini, bahwa dirimu serupa dengan wanita nakal, yaitu wanita murahan yang menjual dirinya karena terpancing.
Jika memang suami yang sedang diperalat iblis, seharusnya kau hadapi dengan tenang dan mohon perlindungan dan pertolongan keapda Allah. Kemudian kau melayani suami dengan niat karena Allah, maka suami yang sedang diperalat iblis akan takluk, maksudnya iblis yang ada pada diri suami yang takluk. Tapi sayang kau tak pernah mendekat dan meminta pertolongan kepada Allah, maka Allah pun membiarkan kau dalam perasaan tersiksa. Di sinilah letak kesalahan fatal pada dirimu. Kau hancurkan diri dengan kekesalan dan kejengkelan. Sedangkan keduanya itu adalah umpan-pancing paling baik bagi iblis. Padahal ada jalan yang paling baik bagimu, yakni jika kau lihat suami tidak pada tempatnya memperlakukanmu, wudhulah kemudian sholat dan adukanlah kepada Allah. Kau tahu, bahwa suamimu adalah makhluq ciptaan Allah dan apabila telah kau adukan dan kau serahkan pada Allah, Allah pulalah yang kuasa membolak-balik hati suami. Mohonlah pada Allah setiap menghadapi suami yang kurang menyenangkan hatimu. Maka Allah akan turunkan petunjuk ke dalam hatimu.
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan idzin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS.64:11)
Dengan adanya petunjuk yang datang dari Allah, hatimu menjadi tenang. Dengan modal ketenangan itulah kau hadapi suami sambil mengalah dan merendah dihadapannya, kemudian katakanlah kepada suami dalam bentuk kalimat tanya.
Contoh kalimat tanya kepada suami diantaranya adalah: “Wahai suamiku! Dalam pandanganmu, siapakah diriku ini, sudahkah daku meletakkan diri selaku istri ataukah daku pelayan kebutuhanmu?” Jika dijawab: “kau adalah istriku”. Kembali pertanyaan dilemparkan: “apakah sudah tepat perlakuanku selaku istri di matamu dan sudahkah benar perlakuanmu selaku suami kepada istri?” Bagiku, selaku wanita memang banyak kelemahan dan memang dalam keadaan lemah kami wanita dicipta. Kau cukupkan ataupun tidak kebutuhan jiwa-ragaku bagiku tidaklah masalah. Tapi aku khawatir jika jiwa-ragaku menuntut di hadapan Allah. Aku selaku istri memang bodoh, tak dapat berbuat apa-apa kecuali uluran belas-kasihmu selaku suami, baik kebutuhan jasmaniku maupun ruhaniku dari belas kasihmu kuperoleh”. Jika kalimat demikian ini kau sampaikan kepada suami, maka suami tak akan bisa berkutik selama suami beriman kepada Allah. Seorang suami bukanlah seperti malaikat yang tidak pernah berbuat kesalahan. Di sinilah fungsi wanita yang baik, ia akan meluruskan suaminya dengan sikap lembut. Bukan berarti karena suami itu pemimpin di dalam rumah tangga, kemudian tidak mau diingatkan istri. Pandangan bahwa istri tidak berhak mengingatkan suami adalah faham yang salah, karena berakibat merendahkan dan menjatuhkan nilai istri.
Cobalah kau perhatikan rumah-tangga Rasulullah Muhammad s.a.w., satu sama lain saling menjaga dan menghargai istri. Bagi Nabi Muhammad s.a.w., istri merupakan tempat menumpahkan dan membagi beban hati. Istri pun menyambutnya dengan penuh kelembutan, penuh perhatian dan kebijakan. Terasa sekali bagi sang suami, bahwa dirinya masih ada yang memperhatikan. Begitu pula suami terhadap istri. Sebenarnya kunci kebahagiaan rumah-tangga sakinah adalah suami-istri sama–sama menjalankan ketaatan kepada Allah, kemudian masing-maisng saling mengerti haq dan kewajibannya sehingga tidak ada saling menindas atau mengkorupsi haq fihak lain.

Dikutip dari tulisan Ki Moenadi MS, berjudul: ”Bahtera Paduan Cinta Di Atas Lautan Ketaatan Kepada Allah Rumah Tangga Bahagia”, Bunga Rampai LAUKAPARA Seri Noda-Noda kehidupan; Yayasan Badiyo, Malang

Baca Lanjut......

Senin, 27 September 2010

Hubungan Suami–Istri Tidak Islami

Wahai hamba Allah si fulan! Hidup laksana ulat perusak tanaman dan lingkungan. Sungguh nafsumu telah tampil menguasai jalan hidup dan kehidupanmu. Tanpa sedikitpun nafsumu memberi kesempatan pada ruh, ‘aqal, hati, dan rasa untuk dapat berperan–aktif di dalam kehidupanmu. Kau tidak sadari secara perlahan dan bertahap, arah hidupmu telah dibawa nafsu untuk hidup setara atau di bawah binatang. Jika dalam kehidupan manusia yang benar dan lazim, yaitu manusia selaku kholifah, maka binatang dituntun manusia. Tetapi lain halnya kehidupanmu. Justru yang terjadi sebaliknya, yakni hidupmu dituntun dan diarahkan sifat kebinatangan. Perhatikanlah kehidupan binatang! Aktifitasnya hanya di sekitar pemuasan nafsu. Jika bukan nafsu perut yang dilakukan, ya nafsu syahwat. Sedangkan saat melampiaskan nafsu syahwatnya, binatang tak mau peduli pada apapun cara yang dilakukan untuk melampiaskan nafsu syahwatnya. Apakah cara yang dilakukan si jantan kelak menyakiti diri dan rasa lawan jenisnya? Untuk hal ini, si jantan tak pernah mau peduli. Bahkan yang lebih egois dilakukan si jantan tidak pernah memikirkan: “Apakah lawan jenisnya telah dapat merasakan puncak kepuasan (klimaks) yang sama sebagaimana dirasakan si jantan?” Inilah sebenarnya dirimu yang penuh diliputi kegoisan nafsu, khususnya nafsu syahwat.
Kenyataan demikian ini dapat dilihat dar cara kau melakukan hubungan suami-istri, tidak pernah mengikuti cara yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad s.a.w. Ketahuilah wahai hamba Allah si Fulan! Sebenarnya Islam bukan berarti tidak mempedulikan perihal hubungan suami-istri, tetapi jauh dari itu justru sangat mempedulikan, sehingga perihal hubungan suami-istri tidak lepas dari segala tuntunan Allah. Hal demikian ini dimaksudkan Allah agar manusia tetap berada pada peringkat makhluq termulia, sebab makhluq yang tak mengenal tata-aturan berhubungan suami-istri adalah binatang. Sekiranya hubungan suami-istri dikelompokkan, maka temasuklah hubungan suami-istri dalam kelompok perbuatan sakral. Tetapi disayangkan, banyak ummat Islam, khususnya dirimu tidak memahaminya. Sehingga hubungan suami-istri terpandang semata-mata hanya untuk pemuas nafsu syahwat. Betapa rendah dan dangkalnya pemikiran demkian.
Mengapa dinyatakan hubungan suami-istri merupakan salah satu hal yang sangat sakral atau suci? Sebab bila hubungan suami-istri dilakukan sebagaimana yang telah Allah tuntunkan lewat Rasullulah Muhammad s.a.w., maka hubungan suami-istri bukan saja terpenuhinya kepuasan nafsu syahwat, melainkan jangkauan jauh ke depan akan didapati dari akhir hubungan suami-istri (yang dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah Muhammad s.a.w.), yakni di antaranya adalah:
*  Pertama terarah pada kehalusan rasa, penyetimbangan rasa dan ketenangan rasa,
* Akan mengahasilkan rumah-tangga harmonis. Rasulullah Muhammad s.a.w. mengistilahkan: “rumahku adalah syurgaku”. Bagaimana tidak akan terucapkan rumahku adalah syurgaku? Karena kehidupan rumah-tangga berjalan penuh damai laksana kehidupan di taman-taman syurga tanpa ada fihak manapun yang mengalami kerugian atau penekanan.
*  Memancarkan cahaya-cahaya Ilaahiyah di dalam kehidupan rumah-tangga, karena cahaya-cahaya itu dibawa langsung oleh para utusan Allah, yakni malaikat.
*  Dengan hadirnya serpihan-serpihan cahaya akan mengundang pula hadirnya ilham-ilham Ilaahiyah yang akan berperan untuk menghidup-suburkan kehidupan rumah-tangga penuh dengan kesegaran, sebab jalannya roda rumah-tangga disetir langsung oleh ilham-ilham yang dihadirkan. Inilah diantaranya kelak dihasilkan dari hubungan suami-istri yang berlangsung sesuai tuntunan Rasullulah Muhammad s.a.w.
Tetapi apa yang terjadi dalam kehidupanmu? Kau akui dirimu adalah Islam, tetapi perilakumu tidak sedikitpun mencerminkan keindahan Islam. Lebih tepat dikatakan kehidupan yang tidak ada bedanya dengan kehidupan binatang. Di benakmu yang terpikirkan hanya bagaimana cara kepuasan nafsu syahwat tepenuhi. Bahkan tidak peduli kepada siapa nafsu syahwat itu dilampiaskan dan tidak peduli pula apa dan bagaimana cara yang ditempuh. Mengapa tidak ada sedikitpun rasa malu dalam dirimu di saat kau bergubungan mendengus-dengus laksana binatang? Pertanyaan: “Siapakah dirimu sebenarnya? Manusia ataukah binatang?” Sungguh menjijikkan perbuatanmu melakukan hubungan suami-istri tidak mengikuti tuntunan Rasulullah Muhammad s.a.w. Kau ketahui bahwa teladan kehidupan adalah Rasulullah Muhammad s.a.w., tetapi nyatanya kau berkiblat pada contoh-contoh yang dilakukan manusia-manusia tanpa perikemanusiaan (manusia-manusia binatang) sebagaimana yang kau lihat di BF. Jika kau berhubungan tidak mengikuti tuntunan Islami, sudah barang tentu yang kau lakukan sebagaimana kau lihat di dalam BF. Aneh dan aneh, manusia yang telah memproklamirkan dirinya sederajat binatang, telah kau jadikan sebagai panutan. Di mana ‘aqal sehatmu wahai si Fulan hamba Allah? Jelaslah sudah pengakuan sebagai pengikut Rasulullah Muhammad s.a.w. adalah pengakuan munafiq.
Untuk kau ketahui wahai hamba Allah, si Fulan! Sesungguhnya bila seorang suami saat berhubungan suami-istri tidak sebagaimana yang dituntunkan Rasullah Muhammad s.a.w., dipastikan dalam berhubungan suami-istri tidak pernah memikirkan apa yang dapat dirasakan oleh istrinya. Sangatlah menderita seorang istri yang diperlakukan dalam berhubugnan suami-istri tanpa tuntunan Rasulullah Muhammad s.a.w. Di sinilah kezhalimanmu menjadikan istri hanya sekedar tempat pelampiasan dan pemuas nafsu syahwat. Sebab bagaimanapun naluri seorang wanita tidak dapat diperlakukan secara kasar dan menjijikkan. sedangkan yang kau lakukan terhadap istrimu (saat hubungan suami-istri tidak Islami) adalah cara yang kasar dan menjijikkan. Sekedar kau ketahui, sebenarnya hubungan suami-istri yang dilakukan tanpa tuntunan Islam, maka fihak istri melakukan (hubungan suami-istri) dengan terpaksa melayani kemauan nafsu binatang. Keterpaksaan timbul karena takut akan fungsinya sebagai istri, antara lain untuk melayani suami. Cobalah kau rasakan dengan mendalam pada dirimu agar dapat tumbuh kembali rasamu. Kau hidup tertawa agar penuh kepuasan diatas derita orang lain. Bukankah hal demikian itu penindasan, bahkan lebih kejam dari seorang penjajah menindas kaum yang di jajah? Dinyatakan kau tertawa penuh kepuasan di atas derita oang lain, karena kau tak pernah tahu bagaimana benci dan jijiknya seorang wanita diperlakukan seperti binatang. Kau tidak dapat menyangkal hubungan suami-istri yang tidak Islami itu hanya dapat dirasakan puas oleh nafsumu sendiri, tetapi tidak demikian pada istrimu.
Naluri wanita sangat suka kehalusan dan keindahan. Begitu pula dalam hal berhubungan suami-istri, sentuhan-sentuhan kehalusan akan memuaskan dirinya. Dan dari sentuhan-sentuhan kehalusan itulah dirasakan adanya bunga-bunga bahagia dan keharmonisan untuk terwujudnya rumah-tangga sakinah. Bila seorang wanita atau istri dalam kehidupan rumah-tangga merasakan adanya sentuhan-sentuhan kehalusan yang diberikan oleh seorang suami, di sinilah kunci kemudahan untuk membawa wanita atau istri menjadi istri yang baik. Tetapi apabila wanita diperlakukan dengan kasar sebagaimana prilaku binatang berhubungan suami-istri, maka pelayan yang ia berikan adalah pelayan yang dihiasi kepalsuan atau kepura-puraan. Ia berpura-pura memberikan kebahagiaan kepada suaminya, padahal hatinya amat benci dengan sikap dan tindak laku suaminya. Pertanyaan: “Apa ni’matnya berhubungan penuh kepura-puraan?” Hal demikian ini tidak pernah terfikirkan oleh dirimu. Pokok utama yang penting dalam dirimu adalah “nafsuku puas”, tidak peduli pada derita orang lain.
Oleh karena itu wahai hamba Allah si Fulan! Pergaulilah istri dengan baik penuh dengan kelembutan, sebagaimana telah Allah tuntunkan,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
… Dan bergaullah dengan mereka secara patut… (QS.4:19)
memang benar Islam mengibaratkan kaum hawa atau para istri laksana ladang-ladangmu tempat kamu bercocok tanam, datangilah ladang-ladang itu sesukamu.
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimna saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS.2:223)
Tetapi hal ini tidak berarti harus diperlakukan seenak dirimu sendiri. Sebab bagaimana pun ladang digarap dengan bebas, tetap ada aturan-aturannya, seperti jagung ditanam dengan teratur dan rapi. Itulah salah satu aturan yang menghasilkan keindahan dalam menanam. Apalagi terhadap istri yang sudah jelas bahwa istri itu adalah manusia. Tentu nalurinya menuntut adanya kesopanan dalam berhubungan suami-istri. Cobalah hiasi penglihatan matamu dengan penglihatan yang sopan. Tanamkanlah dalam dirimu bahwa apa yang kau lihat di dalam BF itu adalah perbuatan binatang yang amat menjijikkan. Memang nafsumu akan sulit diajak mengalihkan penglihatan yang sedemikia, karena terlalu lama nafsu dididik mengikuti pola kehidupan binatang. Sehingga begitu melihat adegan BF, langsung matamu berbinar-binar laksana binatang sedang mengintai musuhnya. Inilah gambaran kehidupan nafsumu selama ini.


Sumber: BAHTERA PADUAN CINTA
                Di Atas Lautan Ketaatan Kepada Allah
                RUMAH TANGGA BAHAGIA, 
                Oleh. Ki Munadi MS

Baca Lanjut......

Kamis, 23 September 2010

Menunda Mahar atau Maskawin

Wahai si Fulan hamba Allah! Kau jalankan syari’ah agama Allah dengan membeo atau ketaatan membuta. Dengan sikap menjalankan syari’ah agama Allah dengan membeo atau dengan ketaatan buta itulah tanda bukti sikap diri memandang remeh nilai-nilai syari’ah Allah. Salah satu contoh adalah serentetan upacara ijab-qobul yang sebenarnya merupakan upacara sakral, bahkan dinilai serupa perjanjian Nabi kepada Allah, dijadikan upacara tradisi. Bukti upacara sakral ijab-qobul menjadi tradisi adalah baik di saat upacara sedang berlangsung maupun setelah berlangsung, tidak sedikitpun dirasa adanya kedekatan hati kepada Allah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan pasangan. Dalam hal ini yang banyak terjadi di tengah masyarakat khususnya dirimu wahai si Fulan, menjelang dan setelah upacara ijab-qobul muncul perasaan senang, tetapi perasaan senang yang muncul bukan karena dorongan rasa senang ruhaniyah, tetapi yang muncul adalah rasa senang nafsiyah. Baik di fihak suami maupun di fihak istri sama-sama memunculkan rasa senang nafsiyah. Bukti rasa senang nafsiyah yang muncul adalah penyelewengan-penyelewengan dalam menjalankan biduk rumah tangga sering kali terjadi, baik itu dilakukan oleh suami maupun oleh istri, khususnya penyelewengan terhadap ketentuan Allah yang bertujuan untuk ketaatan kepada Allah. Berapa banyak jumlah manusia menjalankan rumah-tangga tanpa ketentuan dan ketaatan kepada Allah? Lain halnya jika rasa senang ruhaniyah yang muncul dan bersemi setelah peristiwa ijab-qobul. Beriring berseminya rasa senang ruhaniyah, baik suami maupun istri sama-sama menjalankan kehidupan rumah-tangga di atas lautan ketaatan kepada Allah, sehingga biduk rumah-tangga berlabuh di pantai sakinah dengan panorama keindahan paduan cinta kepada Allah.
Dengan dijalankannya biduk rumah-tangga di atas lautan ketaatan kepada Allah, jelas gelombang-gelombang penyelewengan terhindar dengan sendirinya. Sebenarnya menganggap remeh peristiwa ijab-qobul bukan saja pada masalah pembayaran mahar atau maskawin dalam serentetan upacara ijab-qobul. Bahkan sebelum menginjak pada peristiwa ijab-qobul oleh kedua belah fihak, ijab-qobul itu sendiri nyaris ternodai. Hal demikian ini hampir menjamur di tengah-tengah kehidupan ummat Islam. Sehingga peristiwa ijab-qobul yang sebenarnya merupakan serentetan peristiwa sakral menjadi peristiwa formalitas. Maka wajarlah bila di sana-sini dalam serentetan peristiwa ijab-qobul banyak didapat kesalahan-kesalahan, sebab sejak awal langkah peristiwa ijab-qobul hendak dilangsungkan telah terlebih dahulu dinodai, yaitu tidak sedikit ummat Islam khususnya dirimu wahai si Fulan, ijab-qobul dilangsungkan setelah sebelumnya menjalankan pacaran. Sebenarnya pacaran tersebut merupakan salah satu hal yang paling Allah tidak sukai, karena pacaran termasuk salah satu pekerjaan keji, yaitu pekerjaan mendekati zina, bahkan sangat mudah menjurus pada perbuatan zina. Dan kenyataannya, banyak manusia yang memasuki pintu gerbang ijab-qobul dengan kaki ternodai karena terlebih dahulu terperosok dalam lumpur kemaksiatan zina. Sehingga begitu masuk ke gerbang ijab-qobul, semua menjadi ternodai. Karena sejak awal langkah penuh dengan noda-noda, wajarlah bila dalam menjalankan biduk rumah-tangga ditemui gelombang-gelombang penyelewengan, hingga menenggelamkan diri di dasar noda dan dosa.
Dalam hal pembayaran mahar atau maskawin, pada prinsipnya boleh dalam bentuk apapun, baik itu materi maupun jasa. Tetapi mahar atau maskawin yang paling bernilai adalah mahar atau maskawin yang dapat membawa sikap istri menuju taat kepada Allah. Sebab yang dilihat Al-Qur’an dan perangkat sholat dalam bentuk materi, tanpa dapat melihat apa yang ada di balik isi Al-Qur’an dan perangkat shlolat. Seorang suami membayarkan mahar atau maskawin berupa Al-qur’an dan seperangkat sholat sebenarnya bukan berakhir pada penyerahan wujud materi, namun lebih jauh dari pada itu adalah membawa istri untuk bisa sama-sama mentaati isi kandungan Al-Qur’an dan menjalankan sholat sesuai yang dituntunkan oleh Rasulullah. Inilah sebenarnya tujuan fihak suami membayarkan mahar atau maskawin berupa al-Qur’an dan seperangkat alat sholat kepada fihak istri. Tetapi karena fihak suami dalam membayarkan mahar atau maskawin karena membeo atau mengikuti tradisi dan agar dipandang sebagai seorang muslim, maka secara formalitas yang dibayarkan adalah Al-Qur’an dan seperangkat alat sholat dalam pengertian materi, tanpa sedikitpun mengarah pada pengertian esensi. Karena tidak adanya dasar pembayaran mahar atau maskawin bernilai pada pengertian esensi, maka yang terjadi setelah mahar atau maskawin Al-Qur’an dan seperangkat alat sholat dibayarkan kepada fihak istri, peralatan tersebut disimpan begitu saja tanpa dapat didayamanfaatkan sebagaimana pengertian esensi. Bukankah demikian ini yang terjadi di tengah masyarakat khususnya pada dirimu, wahai si Fulan.
Oleh sebab itu jangalah sekali-kali memandang nilai mahar atau maskawin sebagai formaitas pengesahan ijab-qobul, tetapi lebih jauh dimaksudkan agar dengan mahar atau maskawin yang dibayarkan itu dapat membawa istri menuju ketaatan kepada Allah. Apalah artinya nilai materi, jika kenyataan kaki istri terperosok dalam kancah neraka, karena tidak adanya perhatian sejak awal dari fihak suami yang seharusnya tampil sebagai pemimpin rumah-tangga. Ini bukan berarti mahar atau maskawin tidak diperkenankan membayar dengan nilai materi. Namun pemberian yang bermanfaat adalah pemberian yang dapat merubah sikap istri menuju ketaatan kepada Allah. Banyak orang berlomba-lomba membayarkan mahar atau maskawin dalam rupa materi yang banyak, namun perjalanan biduk rumah-tangga tidak henti-hentinya dilanda gelombang penyelewengan. Hal ini terjadi salah satunya disebabkan mahar atau maskawin dibayarkan hanya dengan nilai formalitas, tanpa sedikitpun tersirat rasa tanggung jawab seorang suami membawa langkah istri menuju ketaatan kepada Allah.



Sumber: BAHTERA PADUAN CINTA 
                Di Atas Lautan Ketaatan Kepada Allah  
                RUMAH TANGGA BAHAGIA,  
                Oleh. Ki Munadi MS

Baca Lanjut......